PANGGILAN
DARI TANAH SEBERANG
Giana, seorang gadis Jakarta yang besar di
lingkungan kosmopolitan, merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia tumbuh
dengan bahasa Indonesia yang fasih, namun selalu merasa asing saat mendengar
kakeknya berbincang dengan dialek Gorontalo yang mendayu. Di rumah itu, hanya
ayah dan kakeknya yang mampu berbincang dengan dialek itu tanpa ragu dan
canggung. Ia kemudian mencari disetiap sudut cerita kakeknya, menyusun potongan-potongan
peta kecil untuk mencari jejak letak tempat yang begitu kentalnya dengan
kehidupan kakeknya.
Suatu sore, ia mendatangi perpustakaan
pribadi kakeknya di sudut rumah, tidak ada yang aneh atau sesuatu yang unik.
Namun, ia menemukan sebuah foto lawas tentang sebuah desa di pedalaman yang
masih memegang teguh tradisi leluhur. Tanpa pikir panjang, Giana memutuskan
untuk melakukan perjalanan. Ia tidak membawa banyak barang, hanya sebuah buku
catatan kosong dan kamera tua. Baginya, ini bukan sekedar liburan, melainkan
pencarian sebuah upaya untuk mengenal bahasa, suku, dan budaya yang selama ini
hanya ia baca dalam literatur akademis. Perjalanan membawa Giana ke sebuah desa
di kaki pegunungan. Saat tiba, ia disambut dengan keheningan yang berbeda bukan
sepi, melainkan ketenangan yang dalam. Ini kali pertama Giana ke desa, matanya
terfokus melihat sekeliling yang tampak asing. Saat Giana akan memulai dialek
dengan warga desa, ia baru sadar. Masalah pertama muncul adalah kendala bahasa.
Penduduk setempat berbicara dalam dialek daerah yang belum pernah ia dengar
sebelumnya, dan mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.
"Aduh,
ini mereka ngomong apa ya", gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba
Rangga, kepala Dusun Oyile, begitu kata Kepala Desa. Giana diperkenalkan untuk
diantarkan tinggal di sebuah rumah warga di dekat Kantor Desa Tua. Rangga merupakan pegawai desa yang bisa
berbahasa Indonesia, walaupun tidak terlalu baku tapi Giana memahami arti dan
makna bahasanya. Sesampainya di sudut desa, Giana bertemu dengan Bu Ani,
seorang wanita paruh baya yang lembut dan sangat menjunjung tinggi tata krama.
Setelah Giana tiba di rumah Bu Ani, ia
mengamati sekeliling yang tampak sangat asing baginya. Matanya tertuju ke arah
dinding yang tergantung sebuah foto, rupanya itu foto Bu Ani bersama suaminya
yang mengenakan pakaian khas daerah disana.
Giana
melangkah mendekat ke arah foto tersebut. Di dalam bingkai kayu yang mulai
memudar, Bu Ani tampak anggun mengenakan kain sulaman Karawo yang rumit,
sementara suaminya berdiri gagah dengan pakaian adat. Melihat ketertarikan
Giana, Bu Ani menghampiri dengan senyum tipis. Giana mengarahkan tangannya ke bingkai
kayu itu, seraya ingin bertanya siapa yang ada didalam bingkai foto itu.
Bu
Ani kemudian mengucapkan sesuatu dalam bahasa daerah, “Utiya hialo latia” (Ini suami saya). Mata Giana terbelalak menatap
tajam penuh makna, seolah bertanya makna kata itu yang terdengar seperti
rangkaian melodi, sambil menunjuk ke arah pakaian di foto itu.
"Maaf,
Bu... Giana belum paham," bisik Giana sopan. Merasa sedikit malu karena
darah yang mengalir di tubuhnya tidak otomatis membuatnya mengerti kata-kata
itu.
Giana
kemudian masuk ke dalam kamar kecil. Ia kembali dibuat takjub dengan tikar
anyaman terbuat dari serat tumbuhan yang melapisi tempat tidurnya. Bahannya
begitu lembut, dingin dan nyama, membuat Giana tak sadar malam telah tiba.
Malam pertamanya di desa itu menjadi ujian
pertama bagi Giana. Bu Ani menyajikan makan malam, namun tampak tak biasa. Binde
biluhuta, makanan olahan jagung khas daerah Gorontalo, di atas meja kayu kecil.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari luar rumah yang
berbatasan langsung dengan tembok Kantor
Desa Tua.
Giana
mulai menyantap makanan itu dengan satu suapan pertama, dilanjutkan dengan
suapan kedua, ketiga dan tanpa sadar semangkuk Binde biluhuta dengan campuran
daun kemangi dan ikan asin, telah habis disantapnya. Giana kemudian menghela
napas panjang, ia mencoba berkomunikasi dengan gestur tubuh, menunjuk kearah olahan
jagung itu, lalu mengacungkan jempol sambil tersenyum.
"Enak,
Bu," katanya pelan.
Bu
Ani tertawa kecil, lalu dengan perlahan berkata, "Di sini, makan bukan
cuma kenyang, Giana. Ini soal menghargai apa yang tumbuh dari tanah."
Kalimat itu diucapkan dalam bahasa Indonesia yang agak kaku, namun cukup jelas
untuk dipahami. Giana segera membuka buku catatan kosongnya. Ia menuliskan satu
kata yang baru saja diajarkan Bu Ani dalam dialek lokal untuk 'terima kasih'.
Di bawah cahaya lampu kuning yang temaram, ia menyadari bahwa literatur
akademis yang ia pahami selama ini di Jakarta, tidak pernah bisa menggambarkan
rasa hangat dari uap olahan jagung dan keramahan yang tulus ini.
Keesokan paginya, Giana memulai
eksplorasinya. Dengan kamera tua menggantung di leher, ia berjalan menuju area Kantor Desa Tua. Di sana, ia
melihat sekelompok pemuda sedang berlatih tarian tradisional. Gerakannya tegas
namun luwes, mencerminkan keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan. Giana
membidikkan kameranya, namun ia tidak langsung memotret. Ia teringat pesan
kakeknya “Melihatlah dengan hati sebelum melihat dengan lensa.”
Ia
pun memberanikan diri mendekat. Meskipun masih terkendala bahasa, Giana mulai
menggunakan bahasa universal, senyuman dan rasa ingin tahu. Saat ia hendak
melihat disekeliling, terlihat seorang tokoh tua sedang duduk sembari menyeduh
secangkir kopi, memperhatikan gerak-gerik para pemuda tari dan mengarahkannya
bila terdapat gerakan yang salah. Ternyata itu tarian Dana-dana khas daerah
Gorontalo. Setiap gerakan dari tarian itu membuat takjub tiada tanding.
Tepukan
meriah terdengar memecahkan suasana hening, mengakhiri tarian itu. Semua
selesai dengan gerakan akhir yang sempurnya dan musik yang sahdu.
Saat para penari mulai meninggalkan tempat
itu, Giana perlahan mendekat. Ia menunjukkan foto desa yang ia bawa dari
Jakarta kepada kakek tua itu, seorang sesepuh yang duduk di pelataran Kantor Desa Tua. Mata sesepuh
itu membelalak. Ia menyentuh foto itu dengan tangan gemetar, lalu menunjuk ke
arah bukit di sisi utara desa. Ternyata, desa di foto itu adalah desa asal
kakek Giana yang kini sudah menyatu dengan pemukiman di kaki gunung tersebut.
Perjalanan
yang awalnya terasa asing kini mulai memiliki arah. Giana mulai memahami bahwa identitas
bukan hanya soal bahasa. Meski lidahnya masih kaku mengucapkan dialek, rasa
hormatnya pada tata krama di rumah Bu Ani telah membuatnya diterima.
Dipandu oleh petunjuk sang sesepuh, Giana
mendaki jalan setapak menuju bukit di sisi utara. Perjalanannya tidak terlalu
jauh, namun butuh ketelitian dan kesabaran dalam setiap langkah. Di sana, ia
tidak menemukan puing-puing kuno atau benda unik yang menarik, melainkan sebuah
pohon beringin besar yang dikelilingi batu-batu sungai yang tertata rapih
dengan hamparan rumput yang luas. Sebuah tempat yang oleh warga lokal disebut
sebagai tempat perenungan.
Dari
ketinggian itu, Giana takjub melihat pemandangan desa secara utuh. Ia menyadari
bahwa tata letak rumah-rumah di sana mengikuti aliran sungai, sebuah filosofi
hidup yang pernah kakeknya ceritakan: "Hidup harus seperti air, menghidupi
tanpa membedakan, mengalir tanpa melawan takdir."
Ia
mengeluarkan kamera tuanya. Kali ini, ia tidak hanya memotret keindahan
visualnya, tetapi juga merekam esensi dari ketenangan tersebut. Giana
memejamkan mata, membiarkan angin pegunungan membisikkan dialek-dialek yang
mulai terasa akrab ditelinganya, seolah ia menemukan bagian lain dari jati
dirinya yang hilang.
Sore harinya, Giana kembali ke rumah Bu
Ani. Ia mendapati Bu Ani sedang duduk di teras dengan selembar kain putih di
pangkuannya. Itu adalah proses pembuatan Kain Karawo.
"Giana,
sini," panggil Bu Ani, kali ini lebih lancar. "Tanganmu mungkin belum
bisa bicara bahasa kami, tapi tanganmu bisa belajar merasakan kesabaran
kami." Giana duduk di samping Bu Ani, belajar teknik mencabut benang yang
sangat rumit untuk membentuk pola. Di sinilah ia memahami mengapa kain ini
begitu berharga. Sambil menyulam, Bu Ani mulai bercerita tentang kakek Giana.
Ternyata, keluarga Bu Ani dan keluarga kakek Giana memiliki hubungan
kekerabatan jauh yang sempat terputus oleh jarak Jakarta-Gorontalo. Giana
merasa seolah potongan puzzle dalam dirinya perlahan mulai terpasang. Suasana
terasa hangat saat itu dengan tawa dan canda dari Bu Ani, membuat wajah Giana
merona bagaikan langit zingga sore itu. Saat suasana hening sejenak,
"Bu,
minggu depan Giana pulang" ucap nya di sela sela keheningan itu.
Seminggu berlalu, tiba saatnya bagi Giana
untuk kembali ke hiruk-pikuk Jakarta. Pada malam terakhir, warga desa
mengadakan perjamuan kecil di pelataran Kantor Desa Tua untuk menghormati "cucu yang pulang".
Malam
itu, Giana mengenakan blus kerawang warna krem dibalut batik coklat dibawahnya,
pemberian Bu Ani. Membuat Giana terlihat lebih dewasa dan elegan. Ia tidak lagi
merasa seperti turis atau peneliti, tapi ia adalah bagian dari masyarakat desa.
Saat ia berdiri di tengah kerumunan, ia
memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat pendek dalam bahasa Gorontalo yang
telah ia catat dan latih selama ini di bukunya, "Wololo habari?." (Bagaimana
kabarnya?). Giana tersenyum dengan wajah berkaca-kaca.
Suasana
menjadi haru. Sang sesepuh mendekat dan memberikan sebuah selendang Karawo
berwarna biru langit, warna yang sama dengan langit Jakarta yang sering Giana
pandangi saat merasa hampa. Giana tersenyum tipis dan tak lupa mengucapkan
terimakasih pada teman masa kecil kakeknya.
Malam
itu suasananya begitu ramai dipenuhi nyanyian dan tarian tradisional daerah
khas Gorontalo, menambah hikmahnya suasana perpisahan Giana bersama masyarakat
desa.
Saat pesawat lepas landas dari Bandara
Djalaluddin, Giana melihat ke luar jendela. Buku catatan yang tadinya kosong
kini penuh dengan kosakata dialek, resep masakan, gerakan tari dan sketsa pola
Karawo, semuanya khas daerah Gorontalo. Namun yang paling penting adalah,
kamera tuanya kini menyimpan memori tentang wajah-wajah yang tidak lagi asing
baginya. Giana pulang ke Jakarta bukan sebagai orang yang "hilang".
Ia pulang dengan kesadaran baru bahwa identitas bukanlah sesuatu yang harus
fasih diucapkan, melainkan sesuatu yang dalam untuk dihidupi.
Kini,
setiap kali ia mendengar kakeknya berbicara dalam dialek yang mendayu, Giana
tidak lagi mendengar asing. Ia mendengar rumah yang akan selalu ia rindukan
untuk kembali.
***
Cabang Lomba : Menulis
Cerita Pendek (Cerpen)
Judul Cerpen :
Panggilan dari Tanah Seberang
Nama Peserta :
Firawati Ismail
Nama Sekolah : SMA
Negeri 1 Bongomeme
Kab./ Provinsi :
Kab.Gorontalo/ Prov. Gorontalo
Komentar
Posting Komentar