Cabang Lomba : Cerpen
Judul : “Ku Tenun Masa Depan”
Nama Peserta : Safitry Kairupan
Nama Sekolah : SMAN 1 Tibawa
Provinsi : Gorontalo
‘Ku Tenun
Masa Depan’
Di dalam kamar ada seorang pria berumur 24 tahun yang
bernama Damar. Cahaya laptop menerangi kamar yang gelap.
Tangan lentik yang sedang bergutat dengan pulpen
sambil terus memperhatikan layar laptop yang menyala menampilkan desain-desain
gaun yang sedang ia buat.
Laptop itu menampilkan banyak sketsa-sketsa kasar
kasar yang belum selesai.
“Damar” Panggil
ibunya membuat ia terlonjak kaget
“Iya ibu, ibu kok belum tidur?” Tanya Damar
“Kamu juga kenapa belum tidur nak?” Tanya balik ibu Damar,
sambil mengelus punggung Damar dengan lembut
“Damar lagi pusing sama desain-desain Damar” Ucap
Damar cengengesan
Ibu Damar ikut melihat kearah laptop yang menampilkan
desain-desain yang tidak rapih dan Belum selesai.
“Kenapa nak? Kehabisan ide ya?”
“Iya bu,karena itu Damar nggak lanjutin lagi, jadi
berhenti di tengah jalan gini” Ucapnya lesu.
“Istrahat dulu nak, barangkali kamu lagi capek jadinya
kehabisan ide”
“Besok pagi saat di kantor kamu lanjutin, barangkali
disana kamu ada yang bantu cari
ide” ucap ibu Damar lembut
“Ya sudah ibu keluar ya, kamu cepat istrahat” Ucap
sang ibu lalu berjalan keluar kamar.
Ia melihat lagi ke arah layar laptopnya lalu langsung
menutupnya. Lalu berjalan ke arah tempat tidur. Ia berbaring dan menutup
matanya lalu tertidur.
Di pagi hari burung-burung mulai berkicauan, matahari
mulai terbit menerangi perkotaan yang penuh dengan Gedung-gedung tinggi.
Para pekerja mulai meramaikan jalanan untuk ke kantor
dengan kendraan mereka, bunyi klakson sebagai suara satu-satunya di jalan raya
itu.
Begitupun Damar. Ia sedang bersiap untuk ke kantornya juga.
Setelah bersiap ia berjalan kearah meja kerjanya untuk
mengambil laptop yang telah dimasukkan ke dalam tas.
Damar segera keluar kamar dan berpamitan pada
keluarganya.
Sesampainya di kantor ia bergegas menuju meja kerjanya
dan membuka laptop untuk melihat desain gaun yang belum selesai dibuat.
Waktu berlalu dengan cepat seperti air. Setiap goresan
pensil di atas kertas telah menciptakan sebuah gaun bermodel tanpa lengan pada
tubuh manekin yang dibuatnya.
Coretan pada bagian atas manekin, garis-garis
berantakan akibat pergulatan tiada henti, serta bagian wajah yang kurang
detail.
Membuat hati Damar merasa kurang puas pada sketsa buatannya.
Dering telfon berbunyi menampilkan nama ibunya di
layar telfon.
Damar mengangkatnya.
“Ya ada apa ibu?” Tanya Damar
“Kakek menyuruh kita untuk cepat pulang ke
kampung” Ucap ibunya sedikit panik, lalu
segera mematikan telfon.
Damar sedikit tidak karuan, harus memilih pulang
kampung atau tidak. Ia
berfikir cukup lama dan akhirnya memilih untuk pulang kampung.
Selesai mengurus cuti, damar langsung pulang ke rumah untuk menyiapkan
beberapa barang untuk pulang kampung bersama keluarganya.
Setelah menempuh perjalanan panjang.
Damar dan keluarganya sampai di kampung halaman mereka.
Mereka memarkirkan mobil di halaman rumah sang
kakek.
Sang kakek langsung keluar dari rumah begitu mendengar suara klakson
mobil keluarga Damar. Satu-persatu keluarga keluar dari mobil lalu memeluk sang
kakek karena sudah lama tidak bertemu.
Damar melihat-lihat sebentar suasana kampung yang
asri, berbeda dengan perkotaan yang banyak polusi. Angin sejuk berhembus lembut
dikulitnya, bau tanah yang basah karena bekas curah hujan menyambut lembut
indra penciumannya.
“Damar” Panggil sang kakek
“Iya kek?” Tanya damar
“Ayo ikut kakek ke tempat alat tenun” Ajak sang kakek
lalu damar mengikutinya.
Di dalam ruangan khusus alat tenun yang terbuat dari
kayu itu berdiri bersandar didinding.
Alat tenun tersebut sudah penuh dengan debu-debu tetapi masih terawat
walaupun sudah tidak terpakai sangat lama.
“Ini alat tenun kakek” Ucap sang kakek.
Kakek itu berjalan ke arah lemari tua yang terbuat
dari kayu jati, lalu membukanya.
Di dalam lemari tersebut ada banyak kain songket yang tergantung dengan
berbagai motif filosofinya.
Damar berjalan ke arah lemari itu juga.
Damar melihat berbagai motif kain songket itu.
“Ini kain songket yang kakek buat, kamu bisa
lihat-lihat dulu” Ucap sang kakek
Damar mengambil semua kain songket itu, lalu ia duduk
di lantai dan melihat setiap motif di semua kain songket itu.
Sang kakek berjalan ke arah jendela, menghadap keluar
lalu berkata
“Damar, warisan ini tidak berjalan lagi karena ibumu
beserta saudaranya tidak mau melanjutkan dengan alasan sulit dan memakan waktu.
Mereka lebih memilih pergi ke kota untuk merantau dari pada melanjutkan warisan
ini”
Damar memperhatikan punggung sang kakek yang bercerita
sambil melihat kearah luar Jendela.
Sang kakek berbalik menghadap kearah damar.
“Karena itulah kakek mau kamu yang melanjutkan warisan ini.”
Ucapan sang kakek membuatnya sedikit tertegun
“Berarti kakek mempercayai ini pada ku?” Tanya Damar
“Tentu, kakek harap kamu bisa dan serius dalam belajar
nanti” Ucap sang kakek menasehati
Ucapan sang kakek berhasil menancap dihatinya yang
membuat ia bertekat untuk tidak membuat kakeknya kecewa, ia akan berusaha
serius mempelajari warisan tersebut.
Beberapa hari kemudian. Saat ia mulai mempelajari
tenun.
Damar mulai tidak karuan akibat kesulitan dalam
memegang tekniknya.
Jari-jari yang mulai lecet, darah yang mengering di jari-jari tangan,
benang yang semakin sulit di atur karena terus kusut.
Damar mulai putus asa, punggungnya mulai sakit.
Air mata yang semakin berani turun
dengan deras membuat damar semakin merasa putus asa tidak sanggup lagi
melanjutkan.
“Kek….. Damar merasa tidak bisa lagi melanjutkan ini, tidak
seperti di kota yang menggunakan teknologi maju. Ini terlalu sulit untuk
damar.” Ucap damar dengan suara yang sudah bergetar karena menangis.
“Damar… kamu pria sejati kan, pria sejati tidak mudah
putus asa. Jangan putus asa dengan hal seperti ini, lanjutkan, tekunlah dan
buktikan kepada dunia bahwa kamu bisa berkarya untuk nusantra. Damar… tenun bukan hanya asal
menyilangkan benang dan membuat motif pada kainnya tetapi terdapat
filosofi-filosofi dalam setiap motif yang dibuat” Ucap sang kakek menerangkan.
Damar hanya menunduk mendengar ucapan sang kakek.
“Lelah boleh, menangis juga boleh karena itu adalah
bagian dari jalan yang akan kamu lalui. Tapi ingat satu hal. Putus asa bukanlah
hal yang harus kamu pilih. Jika lelah istrahatlah bukan berhenti atau putus
asa.” Ucap sang kakek berhasil menghantam Damar.
Ia mulai merenungi ucapan sang kakek seharian penuh.
Damar mulai sadar bahwa semua perjalanan untuk sampai
hingga puncak itu butuh proses dan usaha yang besar. Jika dia berhenti sekarang
dia tidak akan sampai pada puncaknya dan Tidak akan bisa membuktikan pada dunia
bahwa dia bisa berkarya untuk Nusantra.
Hari demi hari berlalu. Damar mulai fokus untuk
menguasai alat tenunnya. Sinar mentari Sudah tenggelam di ujung barat. Di
gantikan dengan sinar bulan yang terang benderang. Damar dan sang kakek
sekarang duduk di teras rumah, merasakan hembusan lembut angin malam menerpa
kulit mereka.
“Damar… “ Panggil sang kakek lembut
“Iya kakek?” Tanya damar
“Bagaimana perkembangan dari latihanmu?” Tanya sang kakek
“Sudah bisa sedikit kakek, tapi masih kesusahan” Ucap Damar
dengan seringai kecil.
“Ya sudah kalau begitu ditekunkan lagi ya latihannya”
Ucap sang kakek
“Pasti kakek” jawban Damar penuh semangat.
“Oh ya kakek, Damar mau tanya, kenapa warisan ini
penting bagi kakek?” Tanya Damar
penasaran
“Bukan penting untuk kakek, tapi penting untuk budaya Nusantara”
Ucap sang kakek
“Budaya Nusantara?” Tanya Damar tak mengerti
“Karena tenun
bukan hanya tentang kain, atau benang yang disilangkan tetapi itu adalah simbol
kehidupan dan jati diri. Di setiap kain tenun yang di buat bukan hanya membentuk motif asal memilih makna yang
kuat dan kehidupan”
“Setiap motif yang dibuat melambangkan
filosofi-filosofi tentang kehidupan” Ucap sang kakek menjelaskan
“Yasudah Kakek tidur duluan ya” Ucap sang Kakek lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Di teras Damar masih merenungi penjelasan sang kakek
tadi.
Angin malam berhembus menyentuh lembut kulitnya.
Keesokan harinya. Damar semakin fokus menekuni
tenunnya. Ia mulai menemukan ide-ide Bagaimana agar bisa membawa tenun
tradisional yang Sekarang dia pelajari agar bisa di terima dunia yang luas ini
tanpa menghilangkan hakikat juga pokok dan sifat dasarnya.
Di dalam kamar dengan cahaya yang redup, Damar sedang
duduk memegang kertas yang bergambar kain tenun yang telah ia gambar selama
beberapa hari terakhir.
Kertas tersebut menggambarkan filosofi-filosofi
kehidupan yang penuh makna tergambar Bintang besar yang berartikan cahaya di
antara kegelapan seperti saat ia belajar menenun yang sulit tetapi berhasil
menekunkannya karena dukungan sang kakek.
Lalu ada juga gambar segitiga di bawah mengartikan
kesucian seperti keasrian kampung halamannya yang indah dengan pepohonan yang
hijau dan udara yang sangat sejuk.
Setelah itu ada juga ornamen-ornamen berulang yang
mengartikan kesehariannya yang terus mengulangi latihannya saat menenun, juga
tentang warisan menenun yang diteruskan padanya.
Terakhir ada rumbai-rumbai yang melambangkan
perjalanan waktu yang dilaluinya agar bisa menguasai teknik tenun.
Damar semakin fokus untuk mencari ide bagaimana agar
ia bisa membawa karya tenun yang telah ia buat. Tidak hanya terkurung dalam
kampungnya tetapi bisa keluar untuk menyapa dunia.
Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu dilewati.
Damar sangat fokus membuat kain yang akan dia padukan dengan dengan gaun yang
dibuatnya. Sang kakek tersenyum bangga karena berhasil mempelajari dan
mewariskan ilmu tenunnya kepada Damar yang sekarang Sudah mulai mengerjakan
karya tenun yang ia buat sendiri. Motif filosofinya.
“Damar… nanti jadi kamu bawa kreasi tenun kamu ini
kepada bos tempat kerjamu?” Tanya sang Kakek dengan tatapan kagum pada Damar
yang sedang menenun.
“Iya kek..Damar mau seluruh dunia tau karya seni tenun
ini penting untuk semua generasi, Seluruh dunia mustahil tau, tapi setidaknya
anak bangsa dapat melihat dan mengenal tenun atau songket ini” Ucap damar penuh
tekad, keberanian dan percaya diri.
Sang kakek mendengar dengan kekaguman lalu memberi
semangat.
Bulan demi Bulan berlalu, Damar sudah selesai membuat
karyanya dan sudah membawa karya tenunnya pada perusahaannya.
Damar memamerkan dengan bangga gaun modern yang di
padukan dengan tenun yang tidak diubah nilai khasnya.
Dari gaun itu akhirnya Damar membawa hasil karya yang
terkenal di kampungnya ke perusahaannya. Hingga dia di angkat menjadi desainer
ternama oleh perusahaannya.
Lalu damar melanjutkan hidupnya dengan penuh rasa syukur
dan berterimakasih pada warisan yang telah diberikan oleh sang kakek.
Komentar
Posting Komentar