Cabang Lomba : Cerpen

Judul                  : ‘Di Balik Papan Tulis Ada Air Mata’

Nama Peserta   :  Siti Mutmainna Panu

Nama Sekolah  : SMAN 1 Tibawa

Provinsi             : Gorontalo

           

‘Di Balik Papan Tulis Ada Air Mata’

            Malam itu, udara dingin masuk lewat jendela kamarku. Aku langsung menutupi tubuhku dengan selimut tebal. Aku menatap ke luar jendela, berpikir seragam apa yang harus kupakai besok disekolah. Namun notifikasi di ponsel membuatku terbangun dari hayalanku. Aku membuka notif itu, melihat status instagram teman sekelasku. Mereka berfoto dengan memakai seragam sekolah yang bagus.

Aku Langsung  mematikan ponselku, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Membuka pintu lemari membuatku berpikir lagi.

“pakaian mereka sangatlah bagus, warnanya putih besih” Ujarku dengan hati yang iri, dan aku langsung mengambil seragam itu.

“Tidak denganku, pakaianku sangatlah lusuh, warnanya kekuningan.” Ujarku lagi dengan melihat pakaian itu yang memang sangatlah lusuh.

             Aku lansung mengambil baju itu, dan mencobanya. di depan kaca aku menatap tubuhku dan seragam yang sudah aku coba.

“tubuhku sangatlah tidak cocok dengan seragam itu.”  Ujarku dengan suara yang sedikit gemetar.

Aku menangis, mengingat baju ini hanya pemberian orang.

            Namaku okta, anak  dari keluarga yang kurang mampu. Ayahku seorang pedagang kecil, sekaligus petani, dan ibuku seorang yang mengurus rumah tangga.

             Di pagi itu matahari terbit dengan penuh percaya diri. Aku terbangun karena suara ayam mengalunkan salam pagi sebagai alarm. Aku bangun dari tempat tidurku dan langsung menuju kamar mandi.

Setelah itu, aku langsung pergi keluar rumah. Udara pagi itu sangatlah dingin, berpadu dengan pemandangan yang tertutup kabut, jalan pagi, membuatku semangat. Tiba-tiba pikiranku langsung teringat, seragam ini, membuatku tak percaya diri dan tak ingin ke sekolah.

 

           

            Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, bagiku tentang perjalanan seseorang yang menghadapi betapa kerasnya lingkungan sekolah. Salah satunya pembullyan. Setiap hari aku menghadapi pembullyan yang entah sampai kapan, membuatku tak ingin lagi pergi ke sekolah. Bagaimanapun aku harus menghadapi semuanya, agar aku bisa mewujudkan cita-citaku.

Teman? apakah aku pernah merasakannya. Bahkan keluarga pun tidak menganggap  diriku dan juga orang tuaku.

 ”Kapan aku bisa beli baju  baru? seragam ini yang membutku frustasi.”

Mengingat status instagram temanku yang memakai seragam yang bagus dan bersih itu membuatku tak lagi percaya diri.

            Di sekolah aku berjalan dengan menunduk, banyak siswa melihat kearahku.

“Dia nggak malu yaa,memakai baju yang lusuh. Nggak dicuci mungkin, lihat warnanya aja kuning” Ucap dari seseorang yang lewat disampingku, dengan nada yang mengejek. Ucapan mereka  terdengar tidak terlalu  menyakiti bagiku. Karena aku sudah terbiasa mengingat bahwa aku dari dulu memang  sudah mendapatkan semua itu.

            Sesampainya di kelas, aku duduk dipinggir jendela. aku langsung membuka tas, mencari headset  tapi kok?

“Hah, aku lupa lagi” Ucapku sambil menepuk jidatku sendiri tanpa headset aku pasti mendengar ejekan yang mencaci maki dan menghina ku lagi.

“Okta ,baju kamu cuman itu ya? Malu tau dilihatin orang, emang kamu nggak malu? Ucap salah satu teman dibelakang bangkuku.

Aku mendengar itu langsung menghadap kebelakang, lalu menjawab pertanyaanya.

“maaf” satu kata itu membuatku berpikir kenapa aku tidak percaya diri. Itu bukan salahku, kenapa aku harus meminta maaf. Betapa bodohnya diri ini.

            Bel pulang pun berbunyi, kring……. kring….. kring…..

Banyak siswa yang berlarian keluar kelas, sedangkan aku menunggu kelas sepi. Lalu aku berjalan keluar kelas dengan wajah menunduk, sebagian siswa masih memenuhi koridor itu.

            Sekali lagi! Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu. Namun aku belajar bagaimana menajadi pribadi yang baik. Tidak hanya cantik, dan bergaya dengan pakaian yang bagus.

            Di perjalanan, ada sesorang  yang memanggil ku dari kejauhan. Seorang perempuan cantik. Sungguh aku tidak kenal siapa perempuan itu. Ia tinggi terlihat seperti seumuran dengan ibuku sekitar berumur tiga puluh Sembilan tahun, lalu ia melambaikan tangannya kearahku agar aku menghampirinya. Aku penasaran dan takut, akhirnya aku  menghampirinya dengan hati yang ragu.

“ibu memanggil saya?”,tanyaku dengan penasaran.

“Iya, kok kamu sendirian mana teman kamu? Tanyanya dengan tatapan kasihan kepada ku.

Tatapan itu membuatku penasaran. Hanya orang tuaku yang menatapku dengan tatapan seperti itu,jika aku ada masalah.

“Maaf bu, aku memang selalu sendiri dan aku tidak punya teman” Balasku dengan nada memastikan siapa perempuan ini.

“Kenapa kamu minta maaf, kamu nggak salah” Ucapnya dengan suara yang lembut.

Aku menunduk dengan tatapan yang entah kemana. Tiba-tiba Mataku berkaca-kaca, Mendengar perkataan ibu itu yang berhasil membuat hatiku luluh.

            Beberapa menit kemudian, ia langsung mengajakku kerumahnya. Jujur aku ragu, ikut dengannya membuatku bertanya-tanya kenapa perempuan ini mengajakku kerumahnya. Bahkan aku tidak kenal siapa perempuan yang bediri di hadapanku ini. Aku pun nekat untuk bertanya.

“Bu, ada apa ibu mengajakku ke rumah ibu. Aku bahkan tidak mengenali ibu.” Tanyaku dengan penasaran.

Namun, setelah mendengar pertanyaanku, ibu itu seketika melamun seperti ada yang ia pikirkan. Sejujurnya aku merasa aneh sedari tadi, karena waktu aku menghampirinya wajahnya memang terlihat sedih dan tatapannya itu seperti memikirkan seseorang.

“Bu maaf mengagetkan ibu, tapi beberapa menit kemudian ibu melamun” Ucapku dengan nada takut mengetkannya.

“Tidak apa-apa naak…! Apa yang ingin kamu tanya sebelumnya” Tanyanya dengan tatapan seolah dia memang tahu apa yang kutanyakan sebelumnya, namun ia menanyakan lagi.

“Ibu kenapa mengajak saya kerumah ibu, apakah ada sesuatu?” Tanyaku dengan nada lebih penasaran, aneh jika ia memanggilku tanpa alasan.

            Sesampainnya di rumah itu, aku melihat rumah itu dengan tatapan yang aneh. Rumah itu seperti sudah lama kosong, tapi aku tetap melangkah masuk di rumah itu. Aku dipersilahkan duduk di kursi yang sudah tua. Aku melihat sekeliling  dalam rumah itu terdapat banyak jaring laba-laba. Akhirnya aku tertuju pada  foto-foto yang tergantung didinding, membuatku berpikir perempuan itu tinggal berdua bersama seorang perempuan cantik yang seumuranku. Tapi aku heran dimana foto orang tuanya, kenapa cuman mereka berdua, bahkan foto itu seperti foto yang sudah beberapa tahun yang lalu.

“kamu pasti berpikir ibu tinggal bersamanya kan?” Tanyanya

“Iya” Jawabku dengan tatapan bingung, dan mengejutkanku.

Aku bingung bagaimana dia bisa tahu?

“Langsung keintinya aja, kamu sering dibully? Tanyanya dengan tatapan seolah sudah tahu.

“Iya, bagaimana ibu bisa tahu?” Tanyaku dengan nada penasaran.

Aku semakin bingung siapa perempuan itu, kenapa ia berbicara denganku santai, seolah sudah kenal lama denganku.

“ibu mau jujur sekalian mau cerita sama kamu, perempuan di foto itu adik ibu, ia dulu sekolah di SMK jauh dari sini, ia seperti kamu. Kamu sering di bully sama seperti dia, dan saya tinggal sendiri” Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

Aku medengar cerita itu langsung  terdiam.

“Dia sudah meninggal setahun yang lalu karena pembullyan, dan melihat kamu ibu teringat adik ibu” Ucapnya lagi dengan mengusap air matanya yang bercucuran dipipinya.

“Ibu tidak menyuruh kamu untuk menceritakan masalah kamu, tapi ibu cuman mau bilang

Jangan pernah takut jika kamu tidak memulainnya duluan, dan jangan pernah meminta maaf jika itu bukan salahmu. Hadapi semuannya, bersyukur kepada penciptamu, dan jangan pernah iri dengan kehidupan orang lain” Ucapnya dengan memegang pundakku, dan tatapan meyakinkan aku dengan ucapannya itu.

Aku tetap terdiam tidak mengatakan sekatah apapun, tapi pikiran ini bercampur aduk,bahkan hati ini tidak tahu perasaan apa yang kurasakan, sakit? atau bingung?  Jujur aku bertanya-tanya kenapa dia memotivasiku, siapa dia? kenapa dia tahu tentangku?

Aku memilih pergi dari rumah itu. Kata-katanya selalu terngiang di benakku.

Sesampainya dirumah aku melihat diriku di depan cermin, sungguh aku sangat menyedihkan beberapa menit yang lalu. Setelah mendengar kata-kata perempuan itu, aku berpikir kenapa aku harus takut dengan dunia yang kejam ini? Dulu aku mengingat betapa bodohnya diriku, yang hanya memikirkan perkataan mereka.

 

 

            Pagi itu matahari menyinari ruang kamarku melalu jendela dengan horden yang sedikit terbuka.

Aku pun terbangun, cahaya itu membuatku mengingat bahwa aku pernah berkata, matahari itu terbit dengan penuh  percaya diri. Dari kalimat itu aku tersenyum, sepertinya aku  sekarang, yang percaya diri.

            Dulu berangkat sekolah adalah hal yang menakutkan bagiku. Takut dengan adanya pembullyan lagi, takut dengan diriku yang bodoh, bahkan takut pada diriku sendiri. Tapi sekarang kata takut adalah hal yang tidak sepenuhnya kutakuti. Aku lebih memilih kata bahagia, karena dengan kata itu aku bisa percaya diri bahkan dititik terendahku.

            Percaya diri bukan cuman sekedar kata, melainkan bagaimana kita bertahan di dunia, dan bangkit dari kegagalan bahkan  melewati  masa-masa sulit.

            Sesampainya di sekolah aku tidak lagi menundukkan kepalaku saat berjalan, aku malahan menatap mereka dengan penuh percaya diri. di kelas, aku duduk di tempatku mengambil buku untuk belajar. Namun tiba-tiba ada seseorang yang datang menemuiku, ia tertawa sambil berkata “Wah tau nggak ia tadi menatapku dengan tatapan tajam, heh lo pikir gaya lo bagus baju aja udah lusuh” Ujarnya dengan suara keras seolah memperdengarkan suaranya yang cempreng itu ke semua orang yang di kelas, dan mempermalukanku.

“Aku tidak berurusan dengan kalian!!!” Ucapku dengan nada yang sedikit gemetar, namun aku tidak takut.        

            Sekarang aku sadar cantik tidak sepenuhnya dihargai, bahkan yang menarik. Tapi bagaimana caranya agar kita bertahan di dunia yang kejam ini untuk selalu bersyukur.  Sekarang aku setuju dengan omongan perempuan itu, Walaupun ia tidak aku kenali aku sangat berterima kasih kepadanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini