Cabang Lomba : Menulis Cerita Pendek
Judul Cerpen : Rintihan Pelajar Dari Pelosok
Nama Peserta : Salma Muksin
Nama Sekolah : SMA N 1 Tolangohula
Provinsi : Gorontalo
Sore itu suasananya sangat indah,
Cahaya matahari bersinar seolah tak mau redup. Suara kicauan burung saling
bersahutan seperti sedang membicarakan sesuatu yang hanya mereka yang tau. Fatra
duduk di teras rumah sederhana milik orang tuanya, disudut teras terdapat bunga
cantik berwarna-warni. Bunga itu merupakan tanaman kesayangan ibunya. Sore itu Fatra
duduk sambil menikmati makanan kecil buatan Ibunya.
“ah... kejadian itu jangan sampai
terulang lagi” gumam Fatra disela-sela ia mengunyah makanan yang sedari tadi ia
makan.
Sayup terdengar langkah kaki yang
semakin dekat. Sofia datang menghampiri Fatra dan langsung duduk di sampingnya.
Fatra kaget dengan kemunculan Sofia yang tiba-tiba. Sambil memegang Hp Sofia
mengajak Fatra untuk menyaksikan dan mengabadikan momen bersama menikmati matahari
tenggelam.
“kayaknya suasana sore ini beda dari
sebelumnya” ungkap Sofia dengan wajah berseri-seri.
“iya ya, sepertinya suasana sore ini
begitu indah” jawab Fatra.
Keduanya kemudian bergegas pindah
tempat ke samping rumah. Rumah Fatra tepat berada di ujung deratan rumah yang
ada di Desa Mekar Jaya. dari samping rumah Fatra merupakan tempat yang bagus
untuk menyaksikan matahari tenggelam.
Desa mekar jaya merupakan desa Pelosok
yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang indah dan tidak terlalu padat. Namun
ditengah keindahan itu, ada hal yang masih menjadi kendala masyarakat Desa
Mekar Jaya. Akses jalan masih jauh dari kata layak untuk tranportasi
masyarakat. Belum lagi saat musim hujan tiba. Banyak jalan yang rusak parah
berubah jadi genangan air yang cukup
berbahaya untuk dilintasi. Belum lagi jarak sekolah yang jauh dari lokasi desa
Mekar Jaya menjadi hambatan bagi Fatra dan Sofia dan juga anak-anak lain yang
tinggal di sana.
“Fatra... sudah sore nak, cepat
mandi dan bersiap untuk Sholat Magrib” dengan suara sedikit keras ibu Fatra
meminta Fatra untuk segera masuk rumah dan bersiap untuk sholat magrib. Fatra
dan Sofia saat itu masih asik berfoto dan menikmati senja, Keduanya langsung
bergegas. Sofia langsung pulang menuju kerumahnya yang jaraknya tidak terlalu
jauh.
“nanti ketemu di mesjid ya Fat” kata
Sofia sambil berlari kecil menuju kerumahnya
Setelah
sholat Magrib, biasanya Fatra dan Sofia belum langsung pulang ke rumah, masih
menunggu waktu sholat Isya. Di jeda waktu itu mereka isi dengan mengaji atau
bercerita tentang keseharian mereka waktu di sekolah atau di rumah. Kadang juga
membahas tentang perjuangan mereka yang harus menempuh jarak jauh untuk
bersekolah dengan kondisi jalan yang rusak dan memprihatinkan. Juga mebahas
kejadian lucu saat perjalanan kesekolah atau pulang sekolah. Apalagi saat musim
hujan, pasti ada saja insiden yang terjadi.
“Fat, Kamu Kenapa? Tanya Sofia. Fatra
yang biasanya ceria, saat itu terlihat merenung dan tak bersemangat. Ia hanya
duduk diam dekat jendela dengan tatapan kosong.
“aku tidak apa-apa” jawab Fatra
singkat Sambil meperbaiki posisi duduknya. Awalnya ia duduk menghadap ke luar
mesjid mengintip melalui jendela. Ia melihat suasana luar mesjid yang tadinya
hening tiba-tiba berubah menjadi ribut disebabkan oleh angin yang berhembus
kencang menyerobot kedalam mesjid melalui jendela dan celah ventilasi.
“sepertinya hujan akan turun, aku
sudah bisa membayangkan bagaimana kondisi jalan besok. Pasti banyak genangan
air dan becek yang bisa saja membuat kita celaka saat akan kesekolah” lanjut Fatra.
“ahh, kamu seperti belum terbiasa
saja Fat, kita kan memang sudah biasa dengan kondisi itu, anggap saja itu
adalah warna-warni perjalanan kita kesekolah” Sofia berusaha menghibur Fatra.
Malam itu hujan turun dengan deras disertai angin kencang. Cuaca yang sorenya
cerah dan tenang, kini berubah.
Setelah mereka selesai melaksanakan
sholat Isya hujan sudah reda. Fatra dan Sofia pulang kerumah masing-masing. banyak
genangan air yang mengisi lubang-lubang jalan. Itu sudah hal yang biasa bagi
mereka dan pemandangan seperti itu hadir setiap selesai hujan turun. Setelah
tiba dirumah, Fatra masih saja kepikiran dengan jalan becek itu hingga ia
terlelap.
“nak, sudah pukul 06.30 kok belum
siap-siap kesekolah?” tanya Ayah dengan lembut. Fatra hanya diam tak menjawab
pertanyaan ayahnya.
Pagi itu Fatra hanya duduk melamun
disudut dapur yang ukurannya tidak terlalu luas. Dalam benak Fatra masih
membayangkan jalan yang akan ia lewati kesekolah, jaraknya kira-kira 10
kilometer dari rumah dengan kondisi jalan yang lebih dari setenganya rusak dan
berlumpur. Rupanya hal itu membuat Fatra tidak bersemangat dan berniat untuk
tidak masuk sekolah.
“sudah ibu jelaskan bahwa jalan itu
memang sudah seperti itu kondisinya, setiap turun hujan pasti berlumpur. Tapi
itu bukan alasan untuk tidak masuk sekolah” sahut Ibu dari sudut dapur lainnya
yang sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarga.
Fatra masih saja diam tak merespon.
Kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Sebelumnya Fatra tidak pernah
sedikitpun mengeluh tentang kondisi jalan yang ia lewati kesekolah. Karena saat
Fatra masih duduk di bangku SMP jaraknya belum terlalu jauh meskipun dengan
kondisi jalan yang sama. Namun sejak ia melanjutkan ke jenjang SMA ia mulai
sering mengeluh karena jaraknya yang sudah bertambah jauh.
Awal masuk SMA Fatra masih sering di
antar oleh ayahnya menggunakan sepeda motor. Namun, beberapa bulan ini sejak Fatra
mahir mengendarai motor sendiri ia sudah diberikan kebebasan oleh ayanhya untuk
berkendara sendiri kesekolah dan Sofia selalu ikut nebeng bersamanya.
“nak, ayah ingin kamu semangat terus
untuk bersekolah. Ayah berharap kamu bisa memperoleh pendidikan yang tinggi,
bahkan kalo bisa kamu harus jadi orang yang bisa membawa perubahan di desa ini”
kata ayah dengan dengan lembut sambil mengusap kepala Fatra yang sedari tadi
masih duduk diam.
Mendengar kata-kata ayahnya. tanpa
kata, Fatra bangkit dari tempat duduk dan langsung bergegas mandi dan bersiap
untuk berangkat kesekolah. Saat itu Sofia juga sudah tiba di depan rumahnya.
Dengan terburu-buru setelah selesai bersiap-siap Fatra langsung bergeas
menghidupkan sepeda motor dan langsung berangkat.
“ayah, Ibu, Aku pamit kesekolah” Fatra
sudah tidak sempat lagi salim kepada orang tuanya dan berpamitan langsung. Ia hanya
berpamitan dari atas motor.
“pasti kita terlambat” teriak Fatra
dengan wajah cemberut..
“makannya jangan banyak drama kalo
mau berangkat sekolah, kita itu sudah dilahirkan disini, dibesarkan disini dan
harus terbiasa dengan kondisi seperti ini” jawab Sofia berusaha memberi
semangat kepada Fatra. Meskipun, dia juga merasakan hal yang sama dan berharap
perubahan akan segara datang.
Kadang mereka merasa kecewa dengan
pemerintah yang seolah tidak peduli dengan kondisi jalan di Desa mereka yang
rusak selama bertahun-tahun. Merasa kecewa dengan perlakuan beberapa Guru yang
seolah tak peduli jika mereka terlambat dengan alasan kondisi jalan yang rusak
sehingga mengahambat perjalannan mereka kesekolah.
Selama perjalanan ke sekolah mereka
tidak banyak ngobrol. Sofia hanya memperhatikan hamparan tebu yang mereka
lewati di perkebunan milik Perusahaan Pabrik Gula. Sedangkan Fatra fokus
memilih-milih jalan yang ia lewati serta berusaha mempertahankan keseimbangan
motor agar tidak jatuh. Mereka tiba di sekolah tepat pukul 08.40 yang sudah
pasti dianggap terlambat. Di depan gerbang sekolah, Salah satu guru Piket sudah
menunggu.
“terlambat lagi” kata Guru piket
dengan suara keras dan tegas sesaat setelah mereka turun dari motor.
“maaf Bu, Kami sering terlambat, kami
bukan sengaja ingin datang terlambat, tapi memang kondisi jalan dari rumah kami
rusak dan berlumpur dan juga jaraknya jauh Bu” jawab Sofia dengan suara pelan. Fatra
hanya diam saja sambil menunduk.
“tidak ada alasan, kalian harus tetap
dihukum, ayo ikut ibu”!
Fatra
dan Sofia dihukum mencabut rumput di dekat lapangan basket sekolah. Banyak
siswa yang melihat mereka dihukum. Hal ini juga yang membuat Fatra selalu risih
jika terlambat. Pasti di hukum di depan teman lainnya dan kadang ada yang
mengejek sambil tertawa.
Selesai dihukum Fatra dan Sofia
kurang bersemangat. Di kelas mereka hanya duduk diam seolah memperhatikan guru
yang sedang menjelaskan materi didepan kelas. Padahal, dalam hati masih
menggerutu dan dongkol terhadap situasi tadi saat dihukum. Tidak lama berselang
bel istrahat berbunyi. Guru yang ada didepan kelas menutup pembelajaran saat itu.
semua siswa keluar kelas untuk istrahat, kecuali Fatra dan Sofia yang masih
termenung.
Beberapa hari berlalu, hampir setiap
peristiwa yang terjadi disekolah selalu saja berkaitan dengan jalan rusak. Sering
terlambat dan dihukum guru, sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari
beberapa teman sekolah, Semua pasti karena jalan rusak itu. Fatra dan Sofia tidak
nyaman dengan situasi itu. Terlebih lagi saat disekolah.
Hari itu, saat bel pulang berbunyi,
semua siswa berhambuan keluar kelas, beberapa teman sekolah mengejek Fatra dan Sofia
saat menuju parkiran sekolah.
“habis main lumpur dimana tadi pagi?”
sahut salah satu siswa yang lewat di depan mereka. Saat di jalan ke sekolah
tadi, karena terburu-buru rok Fatra dan Sofia terkena cipratan lumpur yang
mereka tidak sadari. Nanti setelah jam istrahat, beberapa teman melihat hal itu
dan langsung memberi tahu mereka berdua. Dan salah satu teman kelas yang
berteriak itu juga mengejek dan menertawakan mereka di kelas tadi.
Hari itu mereka memang terlambat lagi,
terlambat memang sudah jadi rutinitas mereka. Tapi keterlambatan mereka hari
itu hanya beberapa menit saja. Tidak seperti keterlambatan saat ada drama pagi
beberapa hari yang yang lalu. Hari itu mereka juga tidak mendapat hukuman.
Kebetulan Guru piket Hari itu merupakan Guru yang baik dan sangat mengerti
dengan kondisi jarak tempat Tinggal dan Jalan yang dilalui Fatra dan Sofia
menuju kesekolah.
Dengan wajah cemberut Fatra tidak
menghiraukan ejekan itu dan langsung mengajak Sofia untuk segera pulang. Langit
sore itu sudah mulai mendung, angin berehembus kencang, menandakan hujan akan
turun lagi. Selama perjalanan pulang Fatra hanya diam saja namun tetap
memeperhatikan jalan. Begitu juga dengan Sofia, ia hanya sibuk menoleh kekiri
dan ke kanan seolah sedang menghitung deretan rumah padat yang mereka lewati
sebelum masuk jalan perkebunan tebu.
Braaak,,,,, byuuurrrr,,,,,,,,!!!!!
Beberapa meter memasuki lorong jalan
perkebunan tebu, Fatra kehilangan keseimbangan dan jatuh. mereka jatuh tepat di
lubang besar yang berlumpur dan motor saat itu hanya berjalan pelan sehingga
mereka tidak merasa kesakitan. Namun hampir semua badan mereka, pakaian sekolah
dan tas terkena lumpur. Dan kejadian seperti ini sudah beberapa kali mereka
alami.
“ini kapan berakhir?”
“Kapan jalan ke desa kita
diperbaiki?”
“Kapaaaan?”
Teriak mereka berdua sambil tertawa,
menertawakan kesialan mereka hari itu. namun dalam hati mereka sangat geram
dengan kondisi dan situasi yang sering terjadi. Mereka hanya bisa berharap agar
mereka bisa mendapatkan kemudahan dalam setiap aktivitas mereka, bisa
secepatnya menyelesaikan sekolah sampai perguruan tinggi dan bisa berkontribusi
untuk kemajuan desa mereka tercinta.
...............Terima Kasih...............
Komentar
Posting Komentar