Senya yang Menyimpan Nama

 

Cabang Lomba      : Menulis Cerpen

Judul Cerpen            : Senya yang Menyimpan Nama

Nama Peserta                        : Alisa Fatikha Sari

Asal Sekolah              : SMA Negeri 1 Tilango

Provinsi                      : Gorontalo

 

 

 “Senja yang Menyimpan Nama”

Langit yang tadinya biru cerah perlahan berubah warna menjadi jingga yang hangat. Matahari menurunkan sinarnya dengan lembut, seolah enggan benar-benar meninggalkan hari. Cahaya itu menyelimuti bumi dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Dikejauhan, burung-burung kembali ke sarangnya. Kepakan sayap mereka terdengar pelan, disertai kicauan yang semakin lirih seakan menjadi salam perpisahan bagi hari yang hampir usai. Angin sore berembus perlahan, menyentuh dedaunan hingga saling berbisik, menciptakan suasana yang damai dan penuh kehangatan.

Di bawah langit senja itu seorang perempuan duduk terdiam, namanya Lisa.  Tatapannya kosong namun dibalik itu tersimpan begitu banyak kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Ia menatap langit yang sama,  yang dahulu pernah ia pandangi bersama seseorang yang kini hanya tersisa sebagai nama dalam ingatan. Pikirannya melayang jauh kembali ke sebuah desa kecil di Klufkam, Jayapura tahun 2015.

Saat itu Lisa baru berusia enam tahun. Ia mulai bersekolah di lingkungan yang sebagian besar beragama kristen, sementara dirinya seorang muslim. Perbedaan itu sempat membuatnya merasa asing, meskipun ia belum sepenuhnya memahami arti dari perbedaan itu sendiri. Baginya, dunia masih sederhana. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang duduk di bangku belakang, namanya Jelita.

Rambutnya selalu dikepang rapi, dua kepang kecil yang bergoyang pelan setiap kali ia melangkah. Wajahnya tenang, dan senyumnya lembut, seperti senja yang turun perlahan tanpa suara.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Lisa dengan ragu.  Jelita hanya mengangguk pelan.

Dan dari anggukan sederhana itulah, sebuah persahabatan kecil mulai tumbuh.

Hari-hari mereka dipenuhi tawa yang sederhana, namun hangat. Lisa dan Jelita sering menghabiskan waktu di dekat sebuah kali kecil di samping sawah. Airnya jernih, mengalir tenang, memantulkan cahaya matahari sore yang berkilauan. Mereka sering melepas sandal, membiarkan kaki kecil mereka menyentuh air yang dingin. Tawa mereka pecah setiap kali arus kecil menggoyangkan keseimbangan. Kadang mereka melempar batu kecil, memperhatikan lingkaran air yang melebar. Kadang pula mereka hanya duduk diam, memandangi aliran yang tak pernah berhenti.

“Kalau air ini pergi, dia ke mana ya?” tanya Lisa suatu hari. Jelita menatap aliran itu cukup lama, sebelum menjawab dengan suara pelan, ke tempat yang jauh. Tapi dia tidak pernah berhenti mengalir.” Saat itu, Lisa tidak benar-benar mengerti. Namun kini, ia memahami bahwa tidak semua yang pergi benar-benar hilang. Ada yang tetap hidup, hanya dalam bentuk yang berbeda. 

Suatu hari di kelas, guru mereka bertanya, “Siapa yang tahu tanggal lahirnya?” Lisa mengangkat tangan dengan semangat. “19 Januari 2009, Bu.” Guru itu tersenyum, lalu beralih pada Jelita. “Kalau kamu?” Jelita menjawab dengan suara pelan, “19 Januari 2009 juga.” Kelas seketika riuh.

Lisa menoleh cepat, matanya membesar. “Serius?”Jelita hanya tersenyum kecil. Sejak saat itu, Lisa merasa bahwa pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan. Seolah ada sesuatu yang telah menakdirkan mereka untuk bertemu. Namun seiring waktu, Lisa mulai menyadari perbedaan di antara mereka.

Saat pelajaran agama, ia harus berpindah ke ruangan kecil bersama beberapa murid lain. Sementara Jelita tetap berada di kelas. Perbedaan itu mulai terasa. Namun tidak bagi hati mereka. “Kita berbeda, ya?” tanya Lisa suatu hari. Jelita tersenyum, rambut kepangnya bergerak tertiup angin. “Iya… tapi tidak apa-apa.” Lisa mengangguk pelan. Karena baginya, Jelita tetaplah Jelita.

Sayangnya, dunia di sekitar mereka tidak selalu seindah itu. Bisik-bisik mulai terdengar. Tatapan mulai berubah. “Awas, dia beda.” Jangan terlalu dekat. Lisa tidak memahami maksudnya. Baginya perbedaan tidak pernah menjadi alasan untuk menjauh. Justru dari perbedaan itulah ia belajar bahwa tidak semua hal harus dipisahkan hanya karena tidak sama.

Suatu sore, di tepi kali, Jelita bertanya dengan suara pelan, “Kamu masih mau berteman denganku?”

Lisa menatapnya lama lalu menggeleng pelan. “Kamu tetap Jelita.” Untuk pertama kalinya, ia melihat senyum Jelita yang begitu lega. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Suatu malam, orang tua Lisa memberi kabar bahwa mereka akan pindah ke Gorontalo.

Dunianya seakan runtuh dalam sekejap. Ia tidak langsung menangis, namun ada kehampaan yang perlahan memenuhi hatinya. Itu berarti ia harus pergi meninggalkan desa kecil itu. Meninggalkan kali di samping sawah dan meninggalkan Jelita. Sore terakhir mereka dihabiskan di tempat yang sama.

Di bawah langit senja yang mulai meredup, mereka duduk berdampingan dalam diam.

“Aku besok pindah,” ucap Lisa lirih. Jelita tidak terlihat terkejut. Seolah ia sudah mengetahui hal itu sejak lama.

“Aku tidak mau pergi…” suara Lisa bergetar. Jelita menatapnya lembut. “Kita masih bisa melihat senja meskipun tidak bersama.”

Air mata Lisa jatuh perlahan. “Tapi rasanya tidak akan sama…” Jelita tidak menjawab. Ia hanya memandang aliran air yang terus bergerak seperti waktu yang tak pernah bisa dihentikan.

Keesokan harinya, Lisa pergi. Dari dalam mobil, ia melihat Jelita untuk terakhir kalinya.

Gadis itu berdiri diam. Dengan dua kepang kecilnya. Dengan senyum yang perlahan menghilang. Semakin jauh. Semakin kecil. Hingga akhirnya tak terlihat lagi.

Tahun demi tahun berlalu, Lisa tumbuh di Gorontalo menjalani kehidupan baru dengan orang-orang di lingkungannya. Namun tidak pernah ada kabar dari Jelita. Tidak ada pesan, Tidak ada pertemuan, Seiring waktu, wajah Jelita mulai memudar dalam ingatannya. Lisa mencoba mengingat senyumnya, tatapannya, suaranya. Namun semuanya perlahan menjadi samar.

Kini, di bawah langit senja, Lisa kembali duduk sendiri. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Jelita… kamu di mana?” bisiknya lirih. Dadanya terasa sesak.

“Aku bahkan mulai lupa wajahmu.” Ia menutup mata, mencoba mengingat. Namun yang muncul hanya bayangan yang tak lagi utuh. “Apa kamu masih mengingatku?” Tidak ada jawaban. Melainkan  hanya angin yang berembus pelan seolah membawa sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Lisa tersenyum kecil meskipun hatinya terasa perih. “Kalau kamu masih ada, aku harap kamu bahagia.” Air matanya jatuh lagi. “Dan kalau kamu sudah lupa aku… tidak apa-apa.” Ia menatap langit untuk terakhir kalinya. “Karena aku tidak akan lupa meskipun aku sudah tidak bisa mengingat wajahmu.” Senja perlahan menghilang. Namun satu hal tetap tinggal yaitu sebuah nama yang diam-diam hidup didalam hatinya, yaitu Jelita.

Sebuah persahabatan kecil di desa Klufkam Jayapura yang mungkin telah hilang, namun tidak pernah benar-benar pergi. Malam pun benar-benar turun. Langit yang tadi menyimpan warna jingga kini berubah menjadi gelap yang sunyi. Bintang-bintang terlihat bermunculan dengan cahaya kecil dari kejauhan seperti kenangan yang masih ada, namun tak bisa digapai.

Lisa masih duduk di tempatnya. Ia tidak langsung pergi. Seolah ada sesuatu yang menahannya atau mungkin seseorang. Angin malam berembus lebih dingin, menyapu lembut wajahnya yang masih basah oleh air mata. Ia memeluk lututnya, mencoba menghangatkan diri, meskipun yang terasa dingin sebenarnya bukan tubuhnya, melainkan hatinya. Tiba-tiba sebuah ingatan kecil muncul, sederhana namun begitu jelas.

Dulu, di tepi kali itu, Jelita pernah berkata, “Kalau suatu hari kita tidak bertemu lagi kamu jangan lupa aku, ya.”

Lisa waktu itu hanya tertawa kecil. “Memangnya kita mau ke mana?” Jelita tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Senyum yang kini bahkan sulit untuk Lisa bayangkan dengan utuh. Lisa menunduk. Air matanya jatuh lagi, tanpa bisa ditahan. “Aku tidak lupa…” bisiknya pelan. “Aku hanya kehilangan caraku untuk mengingatmu.” Ia menutup matanya perlahan. Mencoba sekali lagi.

Mengingat. Namun yang datang hanya potongan-potongan kecil tawa yang samar, langkah kaki di air, dan dua kepang kecil yang bergerak tertiup angin. Tidak utuh. Tidak jelas. Namun cukup untuk membuat hatinya terasa penuh sekaligus kosong. Lisa membuka matanya kembali.

Langit malam terbentang luas di hadapannya. “Jelita…” ia memanggil pelan. Tidak ada jawaban. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi menunggu.

“Aku tidak tahu kamu sekarang di mana,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kamu masih mengingatku atau tidak…” Ia menarik napas panjang. “Namun kalau waktu benar-benar membawa kita sejauh ini.” Suaranya melembut.

“Aku ingin kamu tahun bahwa kamu pernah menjadi bagian paling indah dalam masa kecilku.” Angin berembus pelan, seakan membawa kata-kata itu pergi. Lisa tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia. Namun senyum yang mulai menerima. “Dan mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk berjalan bersama sampai akhir.” Ia berdiri perlahan.

Menatap tempat itu untuk terakhir kalinya. “Tapi aku bersyukur kita pernah berjalan di awal.” Langkahnya mulai menjauh. Perlahan, tenang.

Tidak lagi seberat sebelumnya, karena ia akhirnya mengerti satu hal tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali. Ada yang cukup dikenang , disimpan, dan  cukup dicintai dalam diam. Lisa melangkah pergi meninggalkan senja yang telah lama hilang. Namun di dalam dirinya, masih ada sesuatu yang tetap tinggal.

Bukan wajah, suara, melainkan sebuah nama yang tak akan pernah benar-benar pudar.

Dari sebuah cerita kecil tentang dua anak yang pernah percaya bahwa perbedaan tidak akan pernah memisahkan. Meskipun pada akhirnya waktu tetap menentukannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini