Cabang lomba :
Menulis Cerita Pendek
Judul cerpen : Saksi
Bisu di Setapak Jalan Rindu
Nama lengkap :
FAUJIA OKTAVIANI LATIF
Provinsi
: Gorontalo
Saksi
Bisu di Setapak Jalan Rindu
Fajar
mulai tersenyum menyinari Desa Karya Baru . Perlahan mengusir kabut yang menggantung di anatara
pepohonan. Suara ayam seolah-olah bersahutan mesra menanti harapan di ujung
asa. Sementara udara pagi membelai lembut hati yang hampir kusut. Disebuah
rumah sederhana, tinggal seorang gadis bernama Selvi.
Selvi
adalah salah satu peserta didik di SMA NEGERI 1 ASPARAGA. Mungkin bagi sebagian
orang, sekolah adalah rutinitas dan formalitas. Tapi bagi Selvi, sekolah adalah
jembatan satu-satunya untuk menyapa dunia yang selama ini hanya ia lihat dan ia
dengar dari cerita guru. Di depan cermin kecil yang retak, Selvi merapikan
seragam abu-abunya yang telah usang dan beberapa kali di jahit oleh ibunya, lalu
menatap sepatu sekolahnya yang sudah sedikit menganga. Tujuh kilometer, itulah
jarak yang harus ditempuh Selvi untuk mencapai satu-satunya SMA di kecamatan. Perjuangan
dan kerja keras serta semangat yang menuntut kemandirian hidup sejak dini. “Sudah
siap nak?” sambil berlarian, Selvi menggendong tas sekolah dan berucap “Ayo pak
kita berangkat!” tak lupa ia mengecup punggung tangan ibunya yang sedikit kasar dan keriput. Dalam
hati ia bergumam “Ya Allah berangkat aku bersama ayahku tapi pulang aku harus
menepi di setapak jalan panjang untuk mencapai pondok tempatku istirahat. “Hati-hati
di jalan nak” balas ibunya lembut. Selvi mengangguk, lalu naik ke motor dan
memeluk ayahnya dari belakang. “Pegangan yang kuat, ya.” kata ayahnya sambil menjalankan motor. “Iya pak.” jawab Selvi
Motor
tua itu melaju perlahan meninggalkan rumah sederhana. Mereka seakan menjadi
saksi bisu perjalanan mimpi yang sedang dimulai. Angin pagi menyapa wajah Selvi membawa kesejukan yang
menenangkan hatinya. Selvi menatap jalan yang di laluinya. Di kanan dan kiri pemandangan
alam terbentang luas. Seakan ikut menemani setiap langkahnya yang tak pernah
berhenti mengejar mimpi. Tebu-tebu menjulang tinggi, daunnya bergoyang lembut
tertiup angin, seolah-olah melambai dan menyapanya dengan penuh kehangatan. Di
kejauhan, bebatuan terjal yang menempel di lereng gunung berdiri kokoh bagai
penjaga sunyi yang setia menyaksikan setiap langkah kecilnya. “Kamu sedang
melihat apan nak?” tanya ayah Selvi sambil melirik ke arah belakang. Selvi
tersenyum kecil. “Selvi suka melihat jalan ini, pak…rasanya seperti di temani.”
Ayahnya mengangguk pelan. “Alam memang selalu punya cara untuk menenangkan
hati” Tak jauh dari jari jalan setapak, sapi-sapi berlarian riang, saling
berkejaran tanpa beban, seolah dunia hanya milik mereka. Sesekali terdengar
suara langkah kaki mereka yang berpadu dengan hembusan angin, menciptakan irama
alam yang menenangkan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu hatinya berbisik seperti
harapan kecil yang tak ingin padam. “Aku harus tetap semangat.” Motor tua itu
terus melaju, melewati jalan yang semakin ramai. Rumah-rumah mulai terlihat, suara
anak-anak dan kendaraan lain perlahan menggantikan kesunyian desa. Dari kejauhan,
bangunan Sekolah mulai Nampak Gerbang SMA Negeri 1 Asparaga berdiri sederhana, namun bagi
selvi, tempat itu terasa seperti pintu menuju masa depan.
“Nak
sudah sampai” kata ayahnya sambil
memperlambat laju motor. Motor tua berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Selvi
turun perlahan, merapikan seragamnya. Ia menetap sekolah itu sejenak, lalu
tersenyum kecil. “Nanti pulangnya hati- hati ya, Bapak masih di kebun” pesan
ayahnya. Selvi mengangguk. “Iya pak. Selvi paham.’’ ayahnnya pun menatap dengan
bangga. Selvi tersenyum, lalu menjawab pelan. “Selvi akan terus berusaha pak.”
Ia
kemudian melangkah menuju gerbang sekolah, meninggalkan ayahnya yang kembali
melanjutkan perjalanan ke kebun. Di balik langkah kecilnya, tersimpan mimpi
besar yang terus ia jaga. Gerbang itu bukan sekadar pintu masuk sekolah bagi
Selvi, namun gerbang tersebut adalah awal dari perjalanan panjang untuk menyapa
dunia. “Selvi!” panggil salah satu temannya. Selvi tersenyum dan menghampiri. “Seperti
biasa di antar ayahmu, ya?” tanya temannya. Selvi mengangguk “Iya…tapi nanti
pulangnya jalan kaki lagi.” Temannya tampak terkejut. “Jauh sekali, kamu tidak
capek?”
“Tidak,
itu sudah menjadi rutinitasku sehari-hari” ucap Selvi
Gema
bel telah berbunyi, pertanda pena harus kembali menari di atas kertas putih. Di
dalam kelas Selvi belajar, dengan tekun dan fokus, dengan semangat yang tak
pernah pudar untuk mengejar mimpi-mimpinya. Ia memperhatikan setiap penjelasan
guru dengan sungguh-sungguh, seolah tak ingin melewatkan kesempatan emas untuk
belajar.
Bel
pulang akhirnya berbunyi pertanda waktu belajar telah usai. Angin yang terasa
sejuk pun sudah terasa panas, menyaksikan suasana yang menegang, seakan waktu
berhenti sejenak di antara bunyi yang lantang dan teguran yang siap meledak.
Apel
pun berlalu, begitupun amanat yang di sampaikan guru piket. Langkah pasti
menemani jalan setapak yang menjadi saksi perjuangan pulang lelah dan letih
kaki yang tak lagi mampu mengubah takdir ilahi. Namun, aku yakin tangan yang
selalu menengadah ke langit takkan turun dengan sia-sia. Selvi menatap
deretan-deretan rumah yang seolah tersenyum hangat di sore hari. Di antara
lelah dan langkah yang tak ringan, ia menemukan semangat yang tumbuh
perlahan dari pemandangan sederhana yang
selalu setia serta menemaninya pulang. Rintangan itu mungkin tak pernah hilang,
namun kini terasa lebih bersahabat, karena Selvi tahu, setiap jalan yang ia
lalui akan selalu membawanya kembali. Namun, satu hal yang tak pernah berubah
di jalan itu, seekor anjing hitam! Ya… anjing hitam. Anjing itu! Mungkin dia
terlalu mencintaiku dan merindukanku. Ia tak pernah lelah mengintaiku, selalu
mengikutiku dari kejauhan dengan tatapan yang sulit di tebak, seolah-olah ia
bukan hanya sekadar mengikuti, melainkan ia ingin merebut secuil dari kulitku.
“Ya
Allah… mati aku’ ungkapnya (sambil berlari cepat). “Mama… tolong aku! Anjing …
anjing…”
Dia
terus berlari dan menerjang karpet seribu kerikil yang berserakan. Ribuan
kerikil tajam itu berteriak minta perhatian, menusuk alas kaki hingga membuat
perjalanan terasa seabad lamanya. Kakiku terasa menapak di atas ribuan pisau di
jalan berbatu itu. Ia terus berlari kencang sambil meraih sebatang kayu
erat-erat, seolah itu satu-satunya keberanian yang bisa ia pegang. Batu runcing
berhamburan seolah sengaja di letakkan untuk menyandung langkahku.
“Aduh…
hus-hus.” tanpa peringatan, anjing itu menubruk
dan mencium kakiku, namun naas hanya rok abu abuku yang robek karna gigitnya tajam, kain itu tertahan
kuat seolah ingin menahan langkahku. Ia tersentak dengan cepat,
mengibaskan roknya, membebaskan diri
dari gigitan itu.ia selalu teriak minta tolong seketika jalanan seketika
jalanan berbatu itu menjerit kesakitan saat dilindas roda motor sepeda tua yang
tiba-tiba datang.
“Hus…
*ce’…” seorang pekebun dengan sigap memukul anjing itu, pukulan keras itu
menjadi malaikat pencabut nyawa bagi anjing yang tak tau diri,yang mati kaku
karena kenakalannya pada Selvi. “Terima kasih ya, pak…” ucap Selvi sambil
terisak isak, nafasnya masih terengah-engah karena ketakutan. Pekebun itu
menatapnya dengan lembut. “Iya, tidak apa-apa Nak, kamu sudah aman sekarang.”
Selvi mengusap air matanya. “Saya takut sekali, pak…anjing itu hampir…”
suaranya masih bergetar. “Sudah, sudah. Ayo saya antar saja. Bahaya kalau
sendiri” ucap pekebun. Selvi terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya, pak…
terima kasih banyak” Ia pun menaiki sepeda motor tua milik pekebun itu, sepeda
itu mulai melangkah pelan, berbisik halus melalui roda-rodanya di atas jalan
setapak.
Pekebun
itu melirik sekilas kearah Selvi di belakang.
“Kamu
tinggal di mana nak?” tanya pekebun “Di… diujung jalan pak” jawabnya pelan “Oh
yang rumahnya pagar kayu itu?” tanya pekebun “Iya, pak…” sahut Selvi singkat. Tak lama
kemudian mereka tiba depan rumah Selvi.
“Sudah
sampai, Nak” ujar pekebun itu. “Terima kasih banyak pak… saya tidak akan lupa
pertolongan bapak”. Selvi berdiri mematung di depan rumah, menatap jalan
setapak yang mulai merayap dalam kesepian. Tak lama pintu rumah terbuka
perlahan, seakan enggan membiarkan Selvi masuk membawa gunung kelelahan yang menghempit
napasnya.Selvi pun melangkah masuk dengan langkah pelan, bagian bawah rok
abu-abunya menagis robek di gigit anjing, menelani napasnya yang masih
ketakutan dan gemetar.
“Assalamualaikum”
ucap Selvi pelan “Waalaikumsalam” jawab ibunya dalam rumah, iya menoleh, lalu
terkejut melihat kondisi Selvi. “Loh… rokmu kenapa robek nak?” Selvi terdiam. “Jadi
dijalan, bu…” suaranya lirih. Ibunya segera menghampiri. “Dijalan kenapa? kamu
jatuh?” Selvi menggeleng pelan, air matanya mulai jatuh. “Bukan bu… ada anjing
hitam… dia mengejar Selvi. Selvi takut sekali bu…”
“Iya,
iya sudah, kamu aman sekarang nak” Saat itu, pintu kembali terbuka. Ayah Selvi
masuk dengan pakaian kotor bagaikan prajurit yang baru kembali dari medan
pertempuran. Ia melihat Selvi yang matanya basah, dan rok abu-abunya yang robek.
“Selvi… kamu kenapa menangis nak? Dan ini kenapa rok kamu sobek begitu?”
tanyanya lembut. Selvi menunduk “Tadi di jalan, ada anjing hitam yang ngejar
Selvi… hampir menggigit kaki Selvi tapi
yang kena cuman rok ini” Ayahnya menghela napas panjang, dan mengusap kepala
Selvi dengan lembut. “Maafkan bapak ya nak, bapak pulang kerja sampai malam dan
kamu harus pulang sekolah setiap hari sendiri dan berjalan kaki.”
“Tidak
apa-apa pak, untungnya juga ada bapak pekebun yang nolongin Selvi dia usir
anjing itu, Selvi juga di kasih tumpangan sampai depan rumah”
Di
Tengah kehangatan rumah. Sebuah sentakan menghantam benaknya. Ia terdiam
sejenak, seolah ada suara yang memanggilnya, sebuah rutinitas setelah pulang
sekolah yang tak boleh ia tinggalkan. Dibalik sisa lelah yang mendekap teringat
janji yang terucap sederhana, namun pengikat langkah, agar hidup tak menyerah.
Bukan untuk jeda atau bersenang. Ia kembali ke tempat ia berjuang. Menjadi
buruh cuci di rumah tetangga, tempat tangan belajar makna kerja, tempat mimpi
perlahan merangkai kata.
Hari-hari
pun berlalu. Selvi membantu mencuci, menabung, sedikit demi sedikit. Dari
lelah, dari usaha kecil, dan kekuatan yang pernah ia hadapi ia belajar menjadi
kuat. Setiap tetes air mata membasuh lelah, setiap perasan kain memeras doa,
membuktikan mimpi besar bearakar dari langkah sederhana.
Tahun-tahun
telah berlalu. Kini, Selvi telah berada di perantauan Weda sebuah wilayah di
Provinsi Maluku Utara. Namun perjalanan hidupnya tak selalu mudah. Ia harus
menghentikan pendidikannya sampai di bangku SMA. Bukan karena tak ingin
melanjutkan, melainkan karena keadaan ekonomi yang tak memungkinkan. Walaupun
mimpi itu masih terasa jauh, ia tetap melangkah. Dengan angan yang terbiasa
bekerja, dan hati yang tak pernah menyerah. Ia membangun harapannya perlahan.
Ia bukan lagi gadis kecil yang berlari ketakutan di setapak jalan, dengan rok
robek dan napas terengah-engah. Kini Selvi tumbuh menjadi seorang pengusaha
sukses yang sudah memiliki cabang BRILink berkat kerja keras dan keteguhan.
Di
balik kesuksesan, Ia tak pernah melupakan masa lalunya tentang langkah kecil
yang penuh rasa takut itu, tentang jalan sunyi yang pernah ia lalui dan tentang
banyak mimpi yang pernah ia lepaskan. Ia menyadari salah satu hal bahwa
keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan. Dan setapak jalan
rindu itu, akan menjadi saksi bisu, bagaimana seoraang gadis sederhana
berjuang, bertahan, dan akhirnya menyapa dunia.
******
Komentar
Posting Komentar