CERITA PENDEK FLS3N TINGKAT
KABUPATEN/KOTA
DI ANTARA PUING OTANAHA: SEMEN
BERDARAH DI UJUNG KIAMAT DUNIA
Karya: Chyntia S. Rahman
SMAN 1 Dungaliyo
Kab. Gorontalo, Prov. Gorontalo
Perang
Dunia Ketiga benar-benar terjadi.
***
[1].
Benteng Otanaha, Gorontalo (UCT+8) — 2029, Kamis, 17.45 WITA
Hamparan air danau tampak tenang, diselimuti oleh langit
berwarna tembaga. Angin berembus pelan, membawa serpihan abu halus yang masih
beterbangan. Itu sisa rudal jarak pendek yang menghantam wilayah pemukiman
hingga Ulupahu dan Otahiya. Acha berdiri di puncak, menatap ke bawah tanpa
berkedip. Dari sana, ia melihat dua benteng kebanggaan rakyat Gorontalo yang
kini hampir rata dengan tanah.
Hari ini, bertepatan dengan tembakan rudal yang ke lima
kalinya dalam dua tahun masa perang. Tak ada yang menyangka jika tembakan kali
ini mengenai Ulupahu dan Otahiya hingga hancur lebur. Yang tersisa hanyalah
Otanaha, itu pun dalam kondisi bagian sudutnya telah menganga. Sudah beberapa
hari kapal induk musuh berlabuh di pelabuhan Teluk Tomini, mereka berlabuh di
sana bukan tanpa alasan, tapi ingin menguasai jalur perairan di Teluk Tomini.
Dari kapal induk itu, dilepaskan kapal cepat untuk
menjangkau wilayah-wilayah kecil tanpa terkecuali. Bahkan beberapa nekat
menerobos sungai sempit yang menghubungkan Teluk dengan Danau Limboto. Saat
kapal cepat musuh tiba di Dermaga Pendaratan kapal Presiden Soekarno, mereka
melepaskan rudal jarak pendek.
“Aduh, bagaimana ini?! Tempat berlindung kita hancur!”
teriak salah satu warga, membuat Acha menoleh ke belakang.
“Jika musuh kembali dan menembakkan rudal itu sekali lagi,
kita bisa mati di sini!” Timpal warga lain. Acha melihat ke sekeliling, melihat
para orang tua terduduk lemas, dan anak-anak masih menangis.
Di wilayah benteng masih banyak abu yang beterbangan, bahkan
mampu menutupi tulang-tulang ternak hasil penyembelihan. Selama perang, rakyat
terpaksa menanam ubi dan beternak untuk bertahan hidup. Perang benar-benar memaksa
mereka untuk kembali ke teknik zaman dulu. Acha mengalihkan perhatiannya ke
sudut benteng, ia menatap dinding benteng yang sudah retak, bahkan jemarinya
dihiasi oleh abu kapur ketika menyentuh dinding benteng.
Ia mengingat sejarah yang ia pelajari dulu, benteng ini
dulunya dibangun menggunakan batu kapur dan pasir, tak heran jemarinya dihiasi
oleh abu kapur. Tak hanya itu, benteng ini juga dipercaya dibangun dengan...
putih telur Burung Maleo.
“Ah, benar!” ucap Acha langsung menarik perhatian semua
orang. “Kalau kita masih mau bertahan di sini, benteng ini harus kita
perbaiki.” Ucapnya tegas.
“Memperbaiki dengan apa?” seorang pria tua tiba-tiba menyahut
dari tengah kerumunan, Pak Andi. “Semen? Di zaman perang mana ada toko bangunan
yang buka, Nak.”
Acha menggelengkan kepalanya, “kita pakai cara lama, cara
yang dulu digunakan untuk membangun benteng ini. Dengan putih telur Burung
Maleo.”
“Maleo? Itu cuma dongeng para orang tua,” ujar Pak Andi.
“Benteng ini dibangun dengan semen, bukan telur,” timpal
warga lain.
Acha mengernyit, “ini bukan cerita dongeng. Dalam penelitian
arkeologi, ditemukan campuran putih telur Maleo di beberapa bagian benteng.”
Pak Andi menyipitkan mata. “Sekarang ini masa perang, Nak.
Maleo sudah tidak ada. Sekalipun ada, tidak akan bisa membuat benteng ini kuat
lagi. Itu hanya dongeng.”
Acha terdiam, ia menatap para warga dengan tatapan kecewa. Dongeng?
Benteng ini sudah berdiri lebih dari empat abad. Bertahan dari waktu, cuaca,
dan perubahan zaman. Apakah itu masih bisa disebut dongeng? Ia menarik napas
pelan, lalu berkata, “Tapi... saya pernah membuktikannya.” Semua orang
menatapnya, kali ini dengan rasa penasaran yang lebih jelas.
[2].
Di Balik Rumah Kakek, Sebuah Gunung Yang Terpotong – 2016, Selasa, 20.00 WITA
“Acha mau bertanya, Kek!”
Anak itu berlari kecil menghampiri kakeknya yang sedang
duduk di teras. “Ada apa, Nak?” ujar sang kakek.
Acha langsung berdiri di depannya, “Apakah benar benteng
Otanaha dibangun dengar Telur? Teman Acha berkata seperti itu.”
Kakeknya mengangguk pelan, “iya, benar.”
Acha memiringkan kepalanya, “tapi ada orang yang bilang
kalau itu hanya cerita, katanya kita dibohongi oleh sejarah.”
Kakek tidak langsung menjawab, ia berdiri perlahan, bertumpu
pada tongkatnya. “Sini, ikut kakek. Kita lihat sesuatu dulu,”
Dengan langkah kecilnya, Acha mengikuti kakeknya ke belakang
rumahnya. Di sana, tanah terbuka luas dengan sebuah tebing yang tampak seperti
gunung terpotong tengah menjulang tinggi. “Kita mau melakukan apa, Kek?”
“Tolong ambilkan batu kapur, ya. Masukkan ke dalam ember
ini,” ucap kakeknya sembari menyerahkan ember kecil. Acha mengangguk, ia
berjalan ke arah gunung yang terpotong itu, mengambil batu kapur yang
berserakan di sampingnya, lalu mengisinya ke dalam ember hingga penuh.
“Ini, Kek,” katanya sambil menyerahkan ember dan dihadiahkan
ucapan ‘terima kasih’ oleh kakeknya.
Kakek mulai menyalakan api di tungku tanah liat, lalu
memasukkan batu-batu kapur ke dalamnya. Api perlahan membesar, menelan
batu-batu kapur itu. Acha memperhatikan tanpa berkedip, “kakek sedang memasak
batu?” tanya Acha, lalu kakek menjawab dengan anggukan. “Lalu nanti akan jadi
apa?” tanya Acha lagi.
“Besok pagi kita lihat hasilnya. Acha bangun pagi, ya.” Ucap
sang kakek kemudian menggenggam tangan mungil Acha, menuntunnya menuju kamar
untuk tidur. “Selamat malam, cucu cantiknya kakek. Mimpi indah,”
Keesokan paginya, Acha sudah bangun lebih dulu. Ia langsung
berlari ke belakang rumah dan menemukan sang kakek tengah mengeluarkan batu
kapur yang sudah selesai dipanaskan. “Kemarilah,” panggil kakeknya. Acha
mendekat dengan mata yang berbinar penuh dengan rasa ingin tahu.
“Dulu,” sang kakek mulai bercerita, “tanah kita pernah
didatangi oleh orang asing. Mereka membantu membangun benteng Otanaha bersama rakyat
Gorontalo. Benteng itu dibuat dengan batu karang, batu kapur, pasir dan...”
“Telur?” Acha menebak dengan cepat.
Kakek tersenyum. “Iya.” Ia mengambil air, lalu menuangkannya
ke tumpukan batu kapur yang sudah dibakar. Suara desisan langsung terdengar,
disertai uap panas yang naik ke udara.
Acha langsung mundur sedikit. “Wah! Batunya bersuara, Kek!”
“Itu karena batunya panas,” jawab kakek. “Sekarang coba dihaluskan
pakai kayu itu.” Acha mengambil alat kayu dan mulai menumbuk batu kapur yang
sudah rapuh. “Kalau sudah halus, tambahkan pasir. Pasirnya lebih banyak, ya.”
Lanjut kakeknya.
Acha mengangguk sambil terus mengikuti intruksi. “Terus,
telurnya kapan?” tanyanya tidak sabar.
Kakek tertawa kecil. “Nah, itu bagian terakhir.”
“Telur Maleo?” tanya Acha dengan penuh harap.
Kakek menggelengkan kepalanya. “Dulu, telur Maleo melimpah
jadi kita bisa menggunakannya sebanyak mungkin. Tapi, sekarang Maleo sudah
dilindungi. Jadi kita pakai telur ayam saja, karena sekarang telur ayam yang
melimpah.” Ucap sang kakek membuat Acha sedikit kecewa. Tapi ia tetap membantu
saat kakeknya mulai memecahkan telur.
Setelah cukup banyak, Acha menatap kakeknya. “Kek, telurnya
banyak sekali... apakah tidak apa-apa?”
“Kalau kita pakai untuk sesuatu yang penting, tidak apa-apa.
Telur ini yang bikin ‘semen tradisional’ kita menjadi kuat.” Acha mengangguk.
Campurannya akhirnya jadi, kemudian mereka mulai membentuk
bangunan kecil dari batu dan semen tradisional itu setinggi lutut Acha. Acha
memperhatikan dengan takjub, “ternyata bisa benar-benar membangun bangunan...”
Ia menatap kakeknya, “jadi benteng itu kuat karena telur, ya, Kek?”
Kakek menggeleng pelan. “Bukan hanya karena telurnya, Nak.”
“Lalu karena apa?”
“Karena yang ada di dalam telurnya. Telur punya zat yang
bisa membuat campuran ini menjadi lengket dan kuat.”
Acha mengerutkan alisnya. “Seperti lem?”
Kakeknya mengangguk. “Berarti selain telur, bisa pakai apa
lagi?” Tanya Acha.
Kakek menatap cucunya yang penuh rasa ingin tahu. “Banyak,
salah satunya tepung, tulang, dan juga kelapa.” Acha mengangguk, menyimpan
semua itu dalam pikirannya tanpa tahu bahwa suatu hari, ia akan benar-benar
membutuhkannya.
[3].
Kembali ke Benteng yang Retak – 2029, Kamis, 18.05 WITA
“Benar! Ini bukan karena telurnya.” Acha melangkah mendekat,
“Benteng ini kuat karena kandungan di telur membuat campuran batu dan pasir
bisa menyatu dan mengeras.
Pak Andi menggelengkan kepalanya. “Tetap saja tidak masuk
akal. Maleo sudah tidak ada, mau pakai apa sekarang?”
“Kita tidak pakai telur, kita pakai tulang.” Acha menunjuk
ke luar benteng, ke arah tulang-belulang. “Selama dua tahun ini, kita
menyimpannya di tempat pembuangan tanpa berpikir bahwa kita akan membutuhkannya
nanti. Tulang-tulang itu bisa kita olah, jika direbus lama, akan keluar cairan
kental yang bisa menjadi perekat untuk memperbaiki benteng.”
Pak Andi terlihat tak setuju. “Dan kamu yakin itu akan
berhasil?”
“Sudahlah, jika kalian masih akan tetap berdebat, bisa-bisa
musuh kembali mengirim rudal. Ayo kita mencoba,” ucap warga lain menghentikan
perdebatan antara Acha dan Pak Andi.
Malam itu, di luar Benteng Otanaha disibukkan oleh
orang-orang yang ke sana kemari mengumpulkan tulang-tulang. Di mulai dari
tulang kaki, iga, dan bagian besar lainnya yang diangkat dengan hati-hati. Di
sisi lain, beberapa warga mulai membersihkan tulang dengan air yang seadanya.
Tulang-tulang itu kemudian dihancurkan. Batu besar diangkat,
dijatuhkan, diangkat lagi. Suara benturan terdengar berulang. Tong besar
kemudian diseret, diletakkan di atas tiga batu penyangga, lalu menyalakan api
dan memasukkan kayu dengan terus-menerus agar api tidak padam. Saat tulang
dimasukkan ke dalam air panas, uap air mulai naik perlahan.
“Ini akan lama?” tanya seorang warga.
“Lama, sangat lama.” Jawab Acha, membuat para warga menghela
napas.
Waktu berjalan dengan sangat lama. Malam semakin larut, suhu
semakin rendah, tapi api harus tetap hidup. Tak ada yang benar-benar tertidur,
semua terjaga. Takut harapan yang mereka bangun akan runtuh ketika mata mereka
tertutup. Berjam-jam kemudian, cairan di dalam tong mulai berubah menjadi lebih
kental.
“Ini sudah selesai?” tanya Pak Andi, dan dijawab anggukan
oleh Acha.
Fajar datang tanpa disambut. Para warga tetap bergerak
dengan wajah yang terlihat lelah, mereka mencampurkan batu kapur, pasir, dan
cairan hasil rebusan tulang. Setelah selesai, campuran perekat telah jadi.
Sedikit demi sedikit, campuran itu digunakan. Batu karang disusun kembali, lalu
mereka rekatkan dengan perekat tradisional hasil jerih payah mereka. Hingga...
Dua tahun telah berlalu...
Perang masih berlangsung di wilayah perbatasan. Benteng
Otanaha masih berdiri dengan tambalan hasil satu malam penuh, bentuk perjuangan
rakyat untuk mempertahankan hidup dan tanah air. Acha menuruni tangga yang
sudah rusak, menuju dua benteng yang hampir terurai dengan tanah. Kali ini
berbeda, dua benteng yang telah hancur itu ditemani oleh melodi tawa, Acha
mendekati sumber tawa itu.
“Kak Acha!” Para anak-anak berlari menghampiri Acha dengan
senyum.
“Kami ingin bertanya!”
“Bertanya apa?”
“Apakah benar benteng Otanaha dibangun dengan Tulang?”
*** TAMAT ***
Komentar
Posting Komentar