Cabang Lomba : Menulis Cerita Pendek
Judul Cerpen : Pelajaran di balik sebuah
perjalanan
Nama Peserta : Nurain Maulida Husain
Nama Sekolah : SMAN 1 mootilango
Provinsi : Gorontalo
Bel
pulang berbunyi nyaring dari biasanya, atau mungkin hanya Vara yang merasa
lebih lega setelah menyelesaikan nomor terakhir di lembar ujiannya. Ruang kelas
yang awalnya hening berubah riuh, kursi bergeser, suara napas lega terdengar
dari beberapa siswa, dan untuk pertama kalinya Vara merasakan beban di
kepalanya terangkat. Vara mulai merapikan alat-alat tulisnya, bersiap untuk
pulang. Namun gerakannya berhenti saat
salah satu temannya menghampiri dan mulai membicarakan tentang rencana liburan.
“Vara, kamu rencanannya mau liburan dimana?” tanya
dina, salah satu teman Vara.
Vara diam selama
beberapa saat, mencoba menebak kemana keluarganya akan mengajaknya liburan kali
ini. Pikirannya teringat akan ucapan ibu nya beberapa hari lalu yang sudah
merencanakan liburan ke tempat kelahiran Vara, kampung halaman ibunya.
“Kayaknya aku akan pergi ke Gorontalo, ke rumah
nenek.” jawab Vara santai sambil melanjutkan merapikan alat-alat tulisnya ke dalam tas.
“Gorontalo? ngapain disana, emang seru?” tanya
Dina dengan ekspresi penasaran.
“Awalnya aku juga mikir gitu, tapi kata ibu ku
disana lagi banyak acara adat, jadi sekalian liat langsung. Yaudah, aku pulang
duluan ya.” ucap Vara melambaikan tangan ke arah Dina dengan sedikit
terburu-buru.
Sesampainya di rumah,
Vara melihat beberapa koper sudah siap di ruang tengah, sementara ayah dan
ibunya sedang duduk di sofa untuk menunggunya. Ibu dan ayah Vara menoleh
bersamaan saat Vara tiba, membuat Vara segera bersalaman dengan ayah dan
ibunya.
“Makan dulu, setelah itu kamu mandi dan
siap-siap untuk berangkat, jangan buru-buru.” ucap ibu Vara.
Vara mengangguk dan
menuju dapur untuk makan, setelahnya bergegas mandi dan bersiap-siap untuk
perjalanan liburan. Setelah bersiap Vara menghampiri ibu dan ayahnya yang sudah
memasukkan koper dan beberapa oleh-oleh ke dalam mobil. Vara segera membantu
hingga memastikan tidak ada yang tertinggal, begitu semuanya siap, Vara dan
keluarganya masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan liburan ke rumah
neneknya.
Usai
menempuh perjalanan panjang, mobil yang ditumpangi Vara dan keluarganya tiba di
depan rumah kayu sederhana milik neneknya di Kabupaten Gorontalo lebih tepatnya
di desa Payu dusun Bihe. Perjalanan panjang yang melelahkan terasa terbayar
saat ia melihat halaman luas dengan pepohonan yang menambah keasrian tempat
ini, angin berhembus pelan menerpa wajahnya, membuat Vara menarik napas dan
menghembuskannya perlahan, menikmati kesejukan. Neneknya yang sudah menunggu langsung menghampiri dan menyambut
dengan pelukan hangat dan senyuman yang membuat Vara merasa pulang ke tempat
yang bahkan belum pernah benar-benar ia kenal sebelumnya.
Beberapa
hari kemudian, sang nenek mengajaknya pergi menghadiri pernikahan salah satu
sanak saudara, di sana Vara terpukau melihat pengantin dengan busana merah emas
yang megah serta proses yang penuh makna. Awalnya Vara ia mengira pernikahan
hanya berisi akad dan resepsi yang sering ia lihat di kota. Prosesnya begitu
panjang, penuh makna dan tanggung jawab, tapi tetap memastikan kedua keluarga
benar-benar siap dan saling menghormati. Semuanya dimulai dari Balango atau lamaran, pihak
laki-laki datang dengan menyampaikan niat serius kepada keluarga perempuan
dengan sopan, lalu dilanjutkan dengan Tolobalango, yaitu pembicaraan mengenai mahar, waktu pernikahan, serta
berbagai persiapan lainnya.
“Nek, kenapa prosesnya lama sekali?” bisik Vara
sambil memperhatikan jalannya acara.
“Kalau sesuatu itu penting, prosesnya memang
seharusnya tidak dibuat sederhana, supaya pernikahan tidak dianggap hanya
sebagai permainan, tapi sebagai janji yang akan benar-benar dipertanggung
jawabkan nantinya.” jawab nenek Vara dengan senyuman. Vara diam beberapa saat,
mencoba memahami setiap ucapan neneknya sambil memperhatikan sekitar.
“Berarti...semua orang di sini benar-benar
serius ya menjalani ini?”
“Itulah yang membuat sakral.” ujar neneknya
singkat sambil memperhatikan prosesi acara.
Pada prosesi pernikahan,
calon pengantin melewati tahap Mongakaji yang dilaksanakan secara sederhana namun sakral, disaksikan tokoh
agama dan keluarga. Setelah acara akad selesai, Vara dan neneknya pulang
terlebih dahulu ke rumah dan kembali malam harinya untuk menghadiri resepsi
adat yang meriah dengan pakaian khas adat Gorontalo, pengantin perempuan
mengenakan Bili’u pakaian berwarna cerah berwarna emas, lengkap dengan hiasan
kepala khas yaitu mahkota yang berlapis dengan ornamen menjuntai di sisi
kepala. Di sisi lain, pengantin laki-laki mengenakan busana adat yang serasi,
berupa pakaian tradisional dengan warna senada, dilengkapi penutup kepala dan
aksesoris kepala yang menunjukkan wibawa serta perannya sebagai pemimpin
keluarga.
Acara resepsi berjalan
dengan lancar, Vara dan neneknya berpamitan kepada kedua pengantin dan pulang
kerumah. Saat sampai di rumah, Vara mengganti pakaian dan menghampiri neneknya
yang sedang duduk di teras, bergabung dengan duduk di samping neneknya.
“Nek, tadi pernikahannya kelihatan repot
banget... kenapa masih pake adat selengkap itu?” tanya Vara sambil menatap
halaman yang mulai sepi.
Nenek menarik napas
pelan, mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
“Karena dulu hampir hilang, Vara.”
“Hilang, maksudnya?”
“Iya, dulu pernah beberapa warga disini mulai
berhenti pakai acara adat saat pernikahan. Katanya terlalu merepotkan, terlalu
mahal, dan tidak sesuai dengan zaman.”
“Terus...kenapa sekarang masih ada?”
“Karena ada yang tidak menyerah,” jawab neneknya
tegas. “Beberapa orang tua adat termasuk kakek mu dulu, mereka tetap mengadakan
pernikahan lengkap meskipun banyak yang menganggap itu kuno.”
Vara menoleh ke arah neneknya dengan sedikit
terkejut. “Berarti dulu sempat ditentang?”
“Bukan cuma ditentang,” neneknya tersenyum pahit.
“Ada yang mengejek, ada yang bilang buang-buang waktu. Bahkan pernah ada satu
keluarga hampir batal pakai adat karena tekanan orang sekitar.”
“Sampai segitunya ya nek?”
“Iya. Tapi mereka tetap jalankan, pelan-pelan
orang mulai sadar...kalau semua ikut meninggalkan, nanti tidak ada lagi yang
bisa diwariskan. Jadi setiap pernikahan adat di desa ini bukan hanya sekedar
perayaan, tetapi juga syarat akan makna,” neneknya menghembuskan napas pelan, “Dan
perjuangan orang-orang yang tidak mau kehilangan jati diri mereka.” Lanjut
neneknya.
“Yang aku lihat tadi...itu bukan sekedar tradisi
yang masih ada?” tanya Vara.
Nenek menggeleng pelan. “itu tradisi yang
berhasil bertahan.”
Ingatan nenek kembali ke
beberapa tahun lalu, di rumah yang sama, kakek Vara duduk melingkar dengan
beberapa warga, suasana terasa hening. Wajah-wajah warga yang berada di sana
terlihat serius, bahkan cenderung tegang. Beberapa warga berbisik satu sama lain,
dan beberapa saling menatap untuk menunggu keputusan.
“Sudahlah pak, tidak perlu pakai adat, terlalu
merepotkan.” ucap salah satu warga kepada kakek Vara.
“Benar, saat ini zaman sudah berubah, tidak
seharusnya semuanya diikuti.” timpal warga lainya.
Kakek diam sejenak, lalu menghela nafas pelan,
“Ini bukan tentang perubahan zaman, tapi ini sebagai identitas kita.”
“Identitas tidak akan hilang jika hanya sekali
tidak melakukannya.” balas salah satu warga dengan nada meremehkan.
Kakek diam sejenak,
menunduk dan menghela napas ragu. Anggota keluarga duduk di sudut ruangan,
tidak berani ikut berpendapat. Malam harinya kakek duduk di teras rumah sambil
merenung, ia tahu keputusan ini berat dan menyangkut semua orang. Di satu sisi,
kakek tidak ingin mempersulit keadaan. Namun di sisi lain, ia tidak ingin
menjadi orang yang hanya diam saat kebudayaan dan adat mulai hilang.
Keesokan harinya, kakek
kembali berdiri di hadapan para warga untuk melakukan musyawarah, kali ini
wajahnya terlihat tegas dan tidak terdapat keraguan, menatap satu-persatu warga
yang hadir.
“Acara tetap kita jalankan menggunakan adat,
tidak harus mewah, tapi lengkap.” ucap kakek dengan tegas.
Salah satu tetua desa mulai ikut bicara, “Benar.
Anak-anak sekarang juga tidak terlalu paham adat, yang penting sah, kalau
dipaksakan mewah malah akan menjadi beban keluarga.”
Beberapa warga menghela
napas panjang, ada yang menggeleng, bahkan terdengar bisikan tidak setuju.
Namun kali ini, kakek tidak mundur sedikit pun.
Sejak saat itu, setiap
acara yang diadakan di desa Payu diadakan dengan mengikuti susunan adat yang
lengkap, tanpa ada yang dikurangi. Tidak harus mewah, tapi lengkap tanpa ada
yang dihilangkan.
Nenek
mengakhiri ceritanya dan menatap Vara dengan lembut, “Jika seandainya kakek mu
waktu itu ikut menyerah, mungkin saat ini semuanya sudah berbeda.”
Vara terdiam selama
beberapa saat, pikirannya seolah membayangkan kejadian nyata dari kisah yang
diceritakan neneknya mengenai kakeknya beberapa tahun lalu. Ia mulai memahami
jika satu keberanian untuk tetap mempertahankan sesuatu tidak akan berakhir sia-sia.
Setelah beberapa saat hening, Vara menoleh ke arah neneknya dengan senyuman
tulus.
“Nek, terimakasih karena sudah menceritakan
kisah ini ke Vara. Vara jadi mengerti banyak hal.” ucap Vara, membuat neneknya
tersenyum lembut dan mengangguk.
Di
hari berikutnya, Vara berjalan di sekitar halaman rumah, ia mendengar suara
ritmis yang cukup asing di telinganya. Ia mengikuti suara itu dan menemukan
sekelompok anak sedang bermain sambil memukul sesuatu ke lutut mereka,
menghasilkan bunyi yang unik dan teratur. Vara mendekat dengan rasa penasaran,
salah satu anak memberinya sebuah alat dari bambu yang disebut Polopalo.
Awalnya ia merasa
canggung, tetapi setelah mencoba beberapa kali, ia mulai tertawa bersama
mereka, merasakan kebahagiaan yang tidak bergantung pada teknologi yang biasa
ia temui di kota.
“Ini namanya Polopalo,” kata neneknya yang
tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Aku baru tahu permainan sesederhana ini bisa
seru banget.” jawab Vara sambil tersenyum.
“Karena yang membuat seru bukan alatnya, tapi
orang-orangnya.” balas neneknya dengan penuh makna.
Menjelang akhir
liburannya, Vara mulai merasa ada yang berubah dari cara ia berpikir. Awalnya
dia menganggap semua tradisi itu merepotkan dan tidak penting sehingga tidak
akan berpengaruh jika tidak dilaksanakan. Tapi setelah melihat langsung,
ternyata banyak makna didalamnya. Vara menjadi sadar bahwa kalau tidak semua
hal harus serba praktis, karena menang ada hal-hal yang memang perlu dijaga.
Hari ini Vara harus
kembali ke kota, ia berpamitan dengan nenek dan sanak saudaranya lalu masuk ke dalam
mobil, memulai perjalanan pulang dengan pikiran yang tidak sama lagi, karena
sekarang ia lebih menghargai hal-hal yang dulu ia anggap biasa saja. Ia baru
sadar jika selama ini hal yang terlibat merepotkan justru menciptakan
kebersamaan, tanggung jawab, dan cara menghargai orang lain. Ia pulang bukan
hanya membawa kenangan, tapi juga sejarah yang tidak akan pernah ia lupakan.
Glosarium
·
Balango = pihak laki-laki datang dengan menyampaikan niat serius kepada
keluarga perempuan untuk melamar
·
Bili'u = busana adat kebesaran atau pakaian pengantin wanita khas Gorontalo
yang melambangkan keanggunan, kemuliaan, dan status sosial.
·
Mongakaji = akad nikah (prosesi pengucapan janji nikah)
·
Polopalo = alat musik tradisional gorontalo berbentuk garputala raksasa yang
terbuat dari bambu, dimainkan dengan cara dipukul
·
Tolobalango = musyawarah mengenai mahar, waktu pernikahan, dan persiapan
lainnya.
Komentar
Posting Komentar