Cabang Lomba: Menulis Cerita Pendek

Judul Cerpen: “Tumbilotohe Yang Tersamar Cahaya”

Nama: Nazla Bauna

Sekolah: SMAN 2 LIMBOTO

Asal: Provinsi Gorontalo

 

                                    “Tumbilotohe Yang Tersamar Cahaya”

Panas menyengat ini datang tanpa belas kasih, bagaimana tidak? Dinding-dinding tanah memantulkan cahaya panasnya yang terasa menguras keringatku. Serasa tak ada pohon yang mengembuskan nafasnya, mungkin karena kotaku terletak di garis khatulistiwa. Maka, iklim panas itu akan selalu ada. Walau kotaku ini, Gorontalo, dikenal dengan hawa panasnya, tapi tak kalah dikenal dengan tradisinya.

 Saat ini matahari tepat di bawah ubun-ubun. Dan aku akan kembali ke bumi asalku. Memang jaraknya tidak terlalu jauh, aku saja yang dramatis. Dari kota Gorontalo ke Desa Bongo, Batudaa Pantai, Gorontalo, desa tempatku dibesarkan, hanya 30 menit saja. Namun, perut dan tenggorokanku mulai berisik. Tentu, karena pengaruh puasa di siang hari akan bergejolak. Ingin rasanya kutaruh es batu di seluruh badanku.

            Di tengah perjalanan, perasaan sedih sedikit menghantuiku, Ramadhan akan segera berakhir hanya tinggal menghitung hari saja dan ini sudah hari yang kedua puluh enam. Sebelum kepergian Ramadhan, ada tradisi yang tak pernah tergerus oleh zaman di daearahku, yaitu tumbilotohe. Dan setiap mendekati malam tumbilotohe warga selalu bergotong royong mendirikan alikusu, membuat bola api untuk anak-anak, dan tak lupa pula deretan remaja dan anak-anak desa yang berbaris di sepanjang jalan sambil memegang obor dan melantunkan selawat, namun...sekarang terasa seperti hanya mengenang kenangan saja.

Perjalananku akan segera sampai, sudah mulai terlihat sebagian orang yang bergotong royong untuk membersihkan dan mendirikan kembali alikusu, tempat lampu botol berjejer rapi yang kini sudah mulai terputus oleh gelombang inovasi teknologi.

Tiba-tiba laju terhenti saat sayup-sayup di balik helmku mendengar suara anak-anak yang berseru riang “Te Eme! Te Eme!” sambil melambaikan tangan. Namaku Teme ilahude, namun Eme adalah nama yang lebih akrab di telinga banyak orang.

            Akhirnya, segala lelah luruh seketika, ketika senyum hangat mama menyambutku di ambang pintu. Di sudut sana, Papa sibuk merapikan kembali alikusu yang terlihat agak renta, tangannya begitu telaten seolah ingin merawat terus kenangan yang sudah mulai terkikis.

Bapakku Aji Ilahude, sementara ibuku bernama Hadjarati Eyato, tapi warga disini lebih sering memanggilnya “Ta Ati”.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, sebelum Ramadhan berakhir, tanah di leluhurku ini, Gorontalo, mempunyai tradisi yang tak pernah tergerus oleh zaman, yaitu tumbilotohe, walau komponennya saja yang mulai agak berubah, dan suasananya pun tidak sehangat dulu lagi. Jika dulu kami, anak-anak bermain bola api, dan membawa obor menyusuri jalanan, sekarang larut bersama cahaya dari layar kecil di genggaman.

Seakan waktu berhenti sejenak, membuka kembali cerita-cerita lama dari nenekku, “Oma Tinggi” adalah panggilannya, tetapi nama aslinya Rabia Harman. Mungkin karena postur badannya tinggi, jadi panggilannya begitu. Waktu itu, dia bercerita tentang tumbilatohe yang pernah hidup dengan cara yang berbeda. Ia tak pernah lelah mengulang kisah-kisah dulu, yang justru membuatku semakin tenggelam dalam rasa penasaran.

 “Dulu, tumbilotohe itu tidak pakai lampu botol seperti sekarang,” ujarnya.

Baru pake apa, nene?” tanyaku penasaran.

“Dulu itu bahan lampu adalah pepaya muda yang dibelah dua, bahan bakarnya minyak kelapa, sumbunya kapuk atau kapas atau kain yang diplintir kecil.

Mendengar itu aku teringat cerita mama, yang sering disuruh nenek mencari pepaya muda untuk digunakan dimalam tumbilatohe.

"Ati, ayo bantu mama cari buah pepaya yang masih muda, tugasmu membelah dan mengeluarkan bijinya, karena mama harus menyiapkan sumbunya, malam ini, malam tumbilotohe," ujar Nenek pada mama yang kala itu, mama masih duduk di bangku sekolah dasar.

            Lamunanku terputus saat suara orang-orang mulai riuh di pekarangan rumahku, dengan pemandangan yang rasanya, sekarang sudah mulai sulit dilihat. Orang-orang yang menuangkan minyak tanah ke dalam botol, sekumpulan bapak-bapak yang menelisik sembari menguak rangka alikusu yang sudah usang. Dan pastinya selalu ada janur kuning yang berserakan, sebagai salah satu pelengkap makna alikusu yang akan menjadi persembahan dari setiap rumah di malam tumbilotohe. Bukan hanya itu, tebu dan tumbuhan puring juga menjadi pelengkap alikusu, namun di daerahku, tumbuhan puring lebih dikenal dengan sebutan polohungo.

Seketika, riuh yang semula penuh syahdu dan makna itu luruh, menjadi hening yang menggantung, tepat saat gema pengumuman mulai merambat pelan dari corong suara.

“Perhatikan... kepada seluruh warga Desa Bongo, berhubung besok malam tumbilatohe, tidak diperkenankan lagi untuk memakai lampu botol, karena berpotensi menimbulkan bahaya dan juga untuk efisiensi energi bahan bakar minyak. Dan dimohon untuk menggantinya dengan lampu LED untuk menghemat energi dan mengurangi biaya tambahan seperti, minyak tanah. Maka dari itu dimohon kerja samanya, terima kasih!” rupanya gema suara itu berakar dari aparat desa di seberang sana.

Mendengar pengumuman itu, bukan hanya aku yang terdiam, bapakku juga terdiam sejenak, dan langsung beranjak lari ke arah suara pengumuman itu, diikuti dengan pamanku, paman Edi dan tetangga lain di seberang rumahku.

            “Hei! Maksud kalian apa? Lampu botol itu tradisi dari luhur kita. Jangan kalian bersembunyi dibalik kata ‘untuk menghemat energi’. Mau kalian apa? Kalian mau tradisi ini akan mati?”. Tegas bapakku dengan mata yang dipenuhi amarah dan wajah yang mulai memerah.

“Larangan macam apa ini? Tidak masuk akal! Jika kalian melarang kami menggunakan lampu botol, berarti kalian mencoba untuk mematikan tradisi luhur kita, di Gorontalo!” sambung pamanku yang berada tepat di sampingku.

 Riuh itu membesar, seperti ombak yang sudah tak bisa ditahan. Wajah-wajah yang biasanya teduh kini menegang, mata mereka seakan memantulkan api.

 “Tenang dulu... Bapak Ibu! Kami melakukan ini demi keselamatan bersama!” Sahut kepala dusun yang niatnya mencoba menenangkan warganya itu.

 “Lalu apa makna dan arti tumbilatohe tanpa ada lampu botol?” Sambung bapakku lagi tapi dengan nada yang tegas.

Para aparat itu terdiam tanpa sedikit sahutan apa pun setelah mendengar cetusan dari bapakku.

 Tiba-tiba saja ada sahutan dari kerumunan itu yang membuat hening.

“Iya mending kita pakai lampu LED saja, lebih hemat energi, tenaga, dan keselamatan kita juga terjamin!” sahut seorang perempuan di tengah kerumunan itu.

“Benar! Minyak tanah mahal sekali...” ujar ibu yang menggendong anaknya dari ujung sana.

 Mendengar itu aku terdiam lama, pikiranku kacau, tak tahu mana yang benar tapi tak ada pula yang salah. Aku merasa sedang berdiri di antara dua kelompok yang memiliki dua alasan, namun sangat sulit untuk kupilih alasan mana yang lebih kontras.

 Senja pun sudah mulai teduh menandakan Magrib akan segera menyamperi. Aku dan mama mencoba menenangkan bapak yang masih terlelap dengan emosinya.

 Buka puasa akhirnya datang, namun desaku masih diselimuti kelabu tanda tanya yang menggantung.

Sehabis berbuka, terlihat ibu sudah mempersiapkan sejadah untuk salat magrib bersama. Perlahan emosi dan amarah di petang tadi mulai lenyap terbawa dengan alunan surah Al- Fatihah yang di lantunkan Bapakku.

 Salat berakhir. Tapi entah mengapa rasanya malam itu berbeda, memang malam itu belum waktunya tumbilotohe, tapi entah mengapa rasanya berbeda, setelah petang tadi terjadi perdebatan panas. Aku menatap pekarangan yang gelap, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya malam biasa.

Namun pikiranku terus kembali ke satu hal...

Besok!

 Seketika aku melihat bapak, ia hanya duduk melamun, tapi tangannya mengisyaratkan bahwa pikirannya tidak baik-baik saja.

            Tiba-tiba pamanku datang menghampiri bapak.

Patao wololo?” ujarnya sembari melirik bapak.

De bilohelo lombu, adebo molumbilo tohe ito!” sahut bapak tegas tapi santai.

Suara-suara perlahan menghilang meninggalkan suara kodok saja, malam semakin sunyi dan aku pun perlahan mulai terlelap bersama sisa-sisa pikiran yang belum selesai.

 Tiba-tiba saja aku terbangun saat langit yang tampak gelap ketika rumahku sudah hidup dalam diam. Lampu dapur menyala, dan ibu bergerak pelan agar tidak menimbulkan suara. Tidak banyak percakapan antara kami, ibu membangunkan bapak dan makan bersama sebelum fajar tiba.

Mentari berlalu perlahan, hingga matahari pun mulai condong ke barat. Cahaya di langit sedikit lebih redup, hingga akhirnya azan terdengar dari kejauhan, kami pun duduk bersama untuk mengakhiri puasa kami hari ini, dan dilanjutkan dengan salat magrib.

Malam ini akhirnya datang, tradisi luhur pun sudah mulai berjalan di sebagian rumah, tapi di malam ini tidak lagi satu warnanya. Bapak sudah berdiri di depan rumah, menggenggam lampu botol di tangannya, lalu dengan melafazkan “Bismillah” ia pun mulai menyalakan api dan menyambungkan ke sumbu lampu yang terjejer rapi di alikusu.

Namun, tiba-tiba saja terdengar suara langkah petugas ronda terdengar semakin mendekat.

“Matikan lampu itu!”

 Aku terkejut, rupanya itu suara temanku Epul, dan satunya lagi Roni. Dadaku terasa terguncang.

“Ini bukan soal aturan!” teriak seorang laki-laki dari kejauhan.

“Ini karena mereka pasti ingin mengubah desa kita!”

 Suara-suara sudah mulai bertabrakan. Dan di tengah itu aku hanya diam, entah ingin berpihak pada siapa.

 Aku mencoba menoleh ke arah bapak, ia masih memegang botol itu, dengan sumbu yang masih menyala seolah tak terpengaruh dengan apa yang sedang terjadi. Sejenak aku melihat bapak, tatapannya tidak marah, tidak juga ragu, hanya teguh yang terlihat begitu jelas.

“Terakhir kali kami perintahkan! Padamkan api itu!” teriak Roni petugas ronda dengan mata yang melotot.

Seketika di belakangku beberapa lampu sudah mulai padam.

“Padamkan lampu itu!” tegas Roni petugas ronda sembari menunjuk lampu botol yang ada di genggaman bapak.

Tapi alih-alih memadamkan apinya, bapak malah diam tanpa respons apa pun.

“Pak! Ini sudah peringatan terakhir!” lanjut Epul, petugas ronda.

“Peringatan?” jawab bapakku

“Sejak kapan menjaga tradisi jadi sesuatu yang harus diperingatkan?”

“Ini aturan pemerintah!”

“Aturan?” sambung bapak dengan senyum tipis.

“Aturan atau kepentingan?”

Suasana langsung berubah, semua orang terdiam termasuk para petugas ronda itu.

“Hei, Pak! Jangan macam-macam Anda!” tegas petugas dengan nada yang mulai meninggi.

“Kami hanya menjalankan tugas Pak...” sambung Epul, tapi dengan nada yang sedikit lembut.

“Kalau bicara itu, pikir baik-baik! Jika tidak ingin menimbulkan perkara dan prahara! Tradisi tumbilatohe itu lahir sebelum kita lahir, dan tradisi itu tidak ada di daerah lain, hanya ada di Gorontalo! Tahu? mengerti? paham?” ujar bapakku dengan nada yang sedikit di angkat.

 Dan anehnya para petugas ronda itu terdiam tanpa membalas sepatah kata pun.

“Oh ternyata benar... bukan karena berbahaya tapi karena tidak menguntungkan saja” sahut pamanku sambil tersenyum tipis.

Malam yang seharusnya penuh cahaya. Tapi yang tersisa hanya beberapa titik redup saja yang bertahan. Seolah enggan untuk benar-benar hilang.

 

 

 

 Glosarium

A

 Alikusu: Gerbang adat tradisional Gorontalo yang terbuat dari bambu kuning dan dihiasi janur kuning (daun kelapa muda), tumbuhan puring, lampu botol, dan tebu.

B

Baru pake apa, Nene?: Ungkapan bahasa Gorontalo yang berarti “terus pakai apa, Nenek?”

D

De bilohelo lombu, adebo molumbilo tohe ito: Ungkapan bahasa Gorontalo yang berarti “nanti lihat besok, kita tetap akan memasang lampu”.

P

Polohungo: Sebutan dalam bahasa Gorontalo untuk tanaman puring.

Patao wololo: Ungkapan bahasa Gorontalo yang berarti “lalu bagaimana?”.

T

Tumbilotohe: Tradisi masyarakat Gorontalo berupa pemasangan dan penyalaan lampu botol di jalan, rumah, dan masjid pada malam-malam terakhir bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini