CABANG LOMBA: MENULIS CERITA PENDEK
"Bersujud
Kepada Musim"
Sinta Purnama
SMA
Negeri 1 Telaga, Kabupaten Gorontalo
Provinsi
Gorontalo
Saat
petani lainnya sedang meributkan musim dan hama yang melibas ladang mereka, Pak
Sisa Toni justru meresahkan hal lain, ia tidak bergantung pada musim yang
memberi hujan atau memanggang sawahnya dengan penuh kekeringan, ia tidak peduli
itu. Pak Sisa Toni jauh lebih gelisah ketika mendengar Panggoba
langganannya jatuh stroke dan kehilangan ilmu ramalnya.
Lelaki
tua berusia separuh abad itu sungguh panik bukan main, kesehariannya menjadi
petani sangat bergantung di bawah tangan ramalan Panggoba. Meski ubannya membungkus kepala, ia masih terlihat bugar
menyusuri sawah, dan semangat menjadi petani yang melegenda dengan kekayaannya.
Sebenarnya
masyarakat Gorontalo kerap menyapanya Pak Sisa, tanpa embel-embel nama Toni
Lamusu, sebab ia paling bungsu dalam keluarga. Panggilan itu akhirnya
meredupkan nama lengkap pemberian orang tuanya.
Satu
pekan yang lalu Pak Sisa sering mendatangi Panggoba
yang dipercayainya untuk menanyakan hari baik menanam dan memanen agar
terhindar dari serangan hama dengan menggunakan ilmu perbintangan dan melihat
kalender Gorontalo, jika pada hari lowanga dan kalisuwa tidak
dianjurkan untuk menanam maupun memanen.
Panggoba menjadi rujukan utama bagi para petani di Gorontalo.
***
Setelah
kehilangan mata keyakinannya terhadap Panggoba
yang sering membantu dalam merencanakan hari tanam dan panen. Pak Sisa harus
mencari solusi dari kehilangan itu dengan memaksa untuk putar otak, agar
kerugian itu teratasi. Pak Sisa pun teringat pada Panggoba yang berada di desa sebelah.
Ia
bergegas mendatanginya.
"Ti opa mau ba bantu saya pe sawah."
"Di
mana?"
Penuh
semangat Pak Sisa menjawab dengan hati yang menggebu-gebu, sembari memberi tahu
arah desa dan letak sawahnya. Setelah kesepakatan terbentuk, Pak Sisa
menjadikan Panggoba baru sebagai petunjuk jalan selanjutnya terhadap
nasib sawahnya.
Hari
bergilir, sawah tak lagi berwarna hijau muda yang segar, melainkan sudah
berubah jadi hamparan permadani emas yang memukau. Batang padi yang dulu tegak
lurus, kini merunduk pasrah, melengkung berat menanggung bulir-bulir gabah yang
padat dan berisi. Daun bendera telah mengering, pertanda kehidupan tanaman itu
sudah berada di puncak kematangannya.
Pak
Sisa yang baru berdiri di jalan setapak melongo takjub, matanya berbinar seolah
ada seluruh kebahagiaan dunia yang tumpah di depannya. Pemandangan ini adalah
hasil campur tangan magis Panggoba sebelumnya, kini ia hanya perlu
mengunjungi Panggoba baru untuk
bertanya waktu yang tepat untuk panen.
Pak Sisa pun kembali berjalan menuju gubuk
kecil di tengah bentangan sawah. Langkah kakinya tertatih di pematang sawah
yang sedikit retak, pertanda tanah merindukan air, namun kumpulan padi di kiri
kanan tumbuh dengan gagah. Bulir-bulir padi terlihat merunduk bukan karena
lemah, melainkan menanggung berat harapan dan rezeki.
Saat berjalan, suara kresek gesekan daun padi
yang kering menyapa telinga, berpadu dengan aroma khas, campuran bau tanah
kering dan wangi gabah yang menua. Ada rasa tenang sekaligus bangga melihat
bulir padi yang padat, keras, dan siap untuk dituai.
Selepas
dari sawah Pak Sisa bergegas ke rumah Panggoba
dan menemuinya dengan wajah yang berseri. Panggoba sedang duduk di teras seperti sudah mengetahui yang akan
Pak Sisa tanyakan.
"Opa, saya pe sawah so boleh panen,"
riang Pak Sisa.
"Hari
apa bagus panen opa? lanjutnya dengan nada penasaran setengah mati.
"Nanti
datang lagi besok, saya belum bisa kase tau sekarang," jawab Panggoba
singkat.
Mendengar
jawaban itu Pak Sisa mengernyitkan dahinya, meski sedikit bingung pada akhirnya
ia tetap setuju.
"Ohiyo,
opa kalau bagitu saya pulang dulu," pamit Pak Sisa.
Saat
di waktu lengang malam, Pak Sisa terus memikirkan waktu panen, sampai matanya
sulit untuk tertutup. Semoga besok, semoga besok. Kalimat itu
berkali-kali ia batinkan, ia pun tertidur dengan kepala yang tertumpuk rasa
penasaran.
Di
lain tempat, Panggoba itu sibuk berbicara dengan pepohonan, awan, dan
angin malam melalui jendela rumahnya di tengah kegelapan yang tenang. Selepas
itu ia meletakkan polutube, mengambil bara api dari tungku sisa ia
memasak nasi dan menaruh kemenyan yang telah dihancurkan. Setelah mengeluarkan
asap, Panggoba pun merapalkan mantra.
“[1]Bismillah
kawasa lo allahu ta’ala mopotumulo pilomulo botiya u mowali barakati du’olo
potumulo wawu mowali huna lo ta dadata,” rapalnya.
Besoknya, matahari memanggang Gorontalo di pucuk kepala. Saat itulah Pak
Sisa ke rumah Panggoba untuk mencari tahu hari terbaik untuk panen. Di
depan pintu rumah, Panggoba pun memberitahukan pada Pak Sisa kalau hari
ini bagus untuk memanen.
Pak Sisa menatap dengan sumringah ia bernapas
lega, wajahnya kegirangan dengan senyuman yang terpahat di wajah keriputnya.
Tanpa mengulur waktu ia pun langsung bergegas menuju ke rumah para petani lain
untuk meminta bantuan dalam proses panen sawah.
Setelah
tujuh hari panen, Pak Sisa membajak sawahnya menggunakan traktor, alat
meratakan tanah pengganti cara tradisional, memanfaatkan tenaga sapi ataupun
kerbau. Ia teringat saat dirinya masih muda menggunakan cara tradisional itu,
namun sekarang rasanya tubuhnya tak sesanggup dulu.
Traktor
berjalan lambat di tengah petak sawah, membelah tanah basah dan berlumpur,
warna tanah yang kecoklatan mendominasi langit temaram. Deru mesin traktor
diesel yang khas, suara tak-tok-tak-tok yang ritmis, berat, dan konsisten. Menggantikan sunyinya fajar, menandakan
kehidupan telah dimulai.
Setelah empat hari usai merampungkan perataan sawah, Pak
Sisa melanjutkan ke rumah Panggoba untuk menanyakan hari terbaik menanam. Sesampainya, Panggoba menyampaikan bahwa besok lusa merupakan hari terbaik menanam.
"Lusa
nanti, hari baik buat menanam."
"Setelah
so selesai ba tanam padi, nanti datang kamari, jemput saya,"
ujar Panggoba.
***
Lelaki
tua itu ke rumahnya mengambil topi sawah dan bibit padi yang telah ia semai,
siap ditanam. segeralah ia bergegas menuju sawah.
Pak
Sisa berdiri di tengah sawah yang berkubang lumpur dan air, mengenakan topi
caping anyaman bambu berbentuk kerucut untuk melindungi kepala dari terik
matahari. Dengan tatapan penuh harap, ia memegang erat segenggam bibit padi
muda berwarna hijau segar.
Pakaiannya praktis dan bersahaja, seringkali
sedikit basah atau berlumpur, mencerminkan dedikasi fisik dalam bercocok tanam.
Pak Sisa membungkuk dengan sabar, siap menancapkan sumber kehidupannya. Bibit padi satu per satu dihujamnya ke
dalam lumpur sawah yang subur.
***
Panggoba
dengan rotan tikus yang dipegang oleh kedua tangan bersedia menjalankan
tugasnya. Tanpa berlama-lama Panggoba pun
memulai ritualnya. Keduanya mengelilingi empat titik sawah yang akan dilewati
sembari membaca mantra, akan berhenti pada titik pertama. Setelah mengelilingi
sawah, rotan tikus yang digunakan akan dibuang oleh Panggoba sejauh mungkin dari sawah agar tikus atau hama tersebut
tidak akan memakan tanaman padi.
Mereka
terlihat saling mengisi satu sama lain, kendati ada sebongkah dendam yang
disembunyikan Panggoba atas apa yang
sudah dilakukan semua ini. Alih-alih penuh harap dengan menyokong Pak Sisa
menjaga sawahnya, ia justru membalaskan semua bibit-bibit dendam yang tertanam
jauh hari sebelum Pak Sisa datang membutuhkannya.
Panggoba berhasil
memanipulasi proses tanam sawah Pak Sisa dengan bualan pertanian. Kedengkian
itu mengendap bersama lumpur yang akan meluluhkan hamparan sawah Pak Sisa dalam
kubangan air dendam yang panjang. Dalam heningan malam Panggoba menyiapkan hama untuk digunakan dalam merusak padi sebelum
waktu panen.
Dua
bulan purnama telah berlalu, tanaman padi milik Pak Sisa mulai tumbuh dengan
subur, memasuki fase pembungaan, ditandai dengan munculnya malai. Dua bulan
lagi siap panen raya.
Saat
matahari muncul dari balik bukit, Pak Sisa sibuk merawat tanaman padi miliknya.
Lengkungan bibir dan mata yang menyipit cukup membentuk keriput di garis area
wajah, sambil bernyanyi dan sesekalii bersiul diiringi kicauan dinggota
yang menari-nari di atas bulir padi. Meskipun telah melakukan ritual rotan
tikus, Pak Sisa tetap menjaga kualitas tanaman padi dengan menyemprotkan
pestisida.
Pada
bagian punggungnya terdapat tangki berwarna putih untuk memompa pestisida
melalui selang karet yang dipegang Pak Sisa dengan penuh yakin. Suara desis
dari tuas mulai memompa.
Saat
Pak Sisa naik ke pematang sawah, berjalan pelan. Satu, dua, tiga langkah.
Tiba-tiba langkah kakinya gontai, ia terhenti di langkahnya yang kelima.
Matanya membelalak, alis terangkat, mulut ternganga dengan keringat yang
membasahi sekujur tubuh Pak Sisa usai terjemur tadi di ladang. Melihat sosok
itu Pak Sisa seperti masih belum percaya apa yang telah ia lihat. Perlahan ia
mulai percaya bahwa yang ada di depannya nyata bukan hanya mimpi. Ternyata ada
yang lebih kaget dari dirinya.
Di
ujung pojok sawah, sosok itu menjadi kaku dengan jantung berdebar kencang
seakan-akan ingin keluar. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya melotot
melihat ke arah Pak Sisa. Keduanya saling melempar pandangan.
Hama yang sebagiannya belum sempat ia
sebarkan, masih terisi dalam tas kresek itu pun jatuh begitu saja dari
genggaman tangannya. Panggoba pun
seperti tak bisa menggerakan kaki dan tangannya lagi, setelah kepergok ingin
menaruh hama di ladang Pak Sisa. Mereka pun terlibat adu cekcok di hamparan
sawah berlumur lumpur.
"Kenapa
ti opa taruh hama saya pe sawah?"
Mendengar
hal itu Panggoba terdiam sejenak sambil melirik tanaman padi, yang
bergoyang diembus angin.
"Bukan
kau yang dulu pernah datang pa saya pe
anak?" jawabnya dengan penuh tajam.
Pak
Sisa bergeming, ia berusaha mencerna pertanyaan Panggoba. Namun, belum
menemukan jawaban apa-apa.
"Kau
yang dulu jadi ayahanda, kan? Datang ba
antar beras, cuman foto-foto abis itu beras diambil ulang," lanjut Panggoba. Perkataan itu berhasil menusuk
ingatan Pak Sisa di masa silam.
Pak
Sisa berhasil mencerna semuanya, ia terlempar ke masa dirinya masih menjadi
kepala desa. Dipejamkan matanya sejenak, merutuki diri, menyesali nasib, tetapi
amarahnya tetap masih bersumbu merasa tak senang dengan dendam Panggoba yang
selama ini menipunya.
Karena
tumpukan dengki yang sudah bergumpal lama, Panggoba
segera mengambil becek dan melemparinya ke tubuh Pak Sisa. Tak terima hal
itu, Pak Sisa pun mengarahkan selang tangki ke wajah Panggoba dan menyemprotkan pestisida yang digunakan untuk membunuh
hama.
Matanya
memerah dan
perih, wajahnya merasa panas seperti terbakar, jemarinya langsung menggosok mata. Panggoba meraung kesakitan seperti disiram air cuka. Tubuhnya
terjerembab ke tanah becek. Dengan
setengah kemampuan, diraihnya lumpur segenggam tangan dan dilemparkan ke arah
mata Pak Sisa. Keduanya sengit saling meruntuhkan di tengah lahan sawah yang
menjadi arena laga.
***
GLOSARIUM
Ayahanda: Sebutan
kepala desa di Gorontalo
Dinggota : Burung pipit yang biasa memakan padi
Kalisuwa : Hari kelesuan atau hari kalah
suara.
Lowanga : Hari nahas/ hari kosong dan tidak mendapat apa-apa
Panggoba : Peramal
musim di Gorontalo/orang yang menguasai ilmu perbintangan
Polutube : Tempat bara api untuk membakar
kemenyan/dupa
[1] Bismillah dengan nama Allah
menyuburkan tanaman ini agar bisa berhasil menjadi berkah untuk hidup dan
berguna untuk orang banyak (Mantra Panggoba Gorontalo)
Komentar
Posting Komentar